Menjelang hari anak nasional 23 Juli 2008




Pagi ini beberapa aktivitas berjalan biasa di rumah kami. TV sudah nyala, seusai subuh. Anak pertama kami melihatnya, di tengah kesibukan bermain mainan kesukannya, keretaapi. Saat adik perempuannya bangun, ia pindah ke ruang depan beserta mainannya. TV tetap menyala, gantian saya yang melihat berita. Pindahnya dia, seolah mengingatkan pada adiknya, ia tak mau diganggu atau tidak mau bermain bersama. Yang luar biasa di pagi ini dan seminggu terakhir, anak pertama kami harus mandi lebih pagi dan mengenakan pakaian seragam. Hari ini merupakan minggu ke-dua ia masuk sekolah. Walau sudah seminggu, tapi persiapan menuju sekolah adalah luar biasa dalam aktivitas keluarga kami.
Hari-hari yang belum terbiasa buat kami ini yang paling sibuk adalah ibunya. Kesibukan ibunya ini tentu juga membuat seisi rumah lain ikut sibuk. Siti dan Dewi, petugas rumah tangga kami harus datang agak pagi, 15-30 menit. Saya pun harus merelakan mengurangi aktivitas “membaca” dunia luar.
Haru rasanya melihatnya sudah menginjak usia sekolah. Biru putih mendominasi warna seragamnya. Ia nampak terlihat lebih besar, sehat, dan bersih.
Saat anak pertama kami (Siraj) sudah siap akan berangkat, anaku ketiga kami (Zonnig) masih dalam gendonganku. Sedangkan anak kedua kami (Matari), sibuk dengan kegemarannya, mengusili kedua petugas rumah tangga kami. Anak perempuan kami ini memang sedang dalam tahap meniru dan mengikuti aktivitas orang. Ia yang belum mandi saat waktu menunjukkan pukul 07.10 itu tak jarang merebut mainan atau kegiatan orang lain.
Berpamitan sebelum pergi adalah ritual biasa yang kami lakukan. Tatkala berpamitan akan mengantar sekolah, Matari nampak ragu: mau melanjutkan kegiatannya atau mengikuti mengantar. Biasanya ia ikut mengantar, namun karena ada mainan baru (milik kakaknya), ia dihadapkan pada dua pilihan. Bagiku wajar, anak yang kasih sayangnya sedikit terenggut oleh adiknya ini (ia lahir belum genap dua tahun), sering minta perhatian. Tak terkecuali pagi ini, ia dalam kegalauannya minta dua pilihan itu dapat dilakoni berbarengan. Berbagai rayuan kami lantunkan, ia tetap tidak bergeming dan merengek. Sejenak kami diam, ia ikut diam. Ia mutuskan akan mengikuti ke sekolah kakaknya, dengan membawa mainan. Namun, saat akan dinaikkan ke motor, kebimbangannya muncul lagi. Karena belum bisa berargumentasi, ia hanya bisa nangis. Dan, ini sering ia lakukan dalam situasi-situasi tertentu.
Kesabaran dalam mendidik, memomong, dan memfasilitasi ketiga anak kami nampaknya harus kami berikan porsi yang lebih ke depan. Ketiga anakku inilah tempat kami menyandarkan mimpi-mimpi kami yang belum terwujud, dan terlewat.
Dalam situasi seperti itu, saya memutuskan mengantar anak pertama kami sampai ke kelas. Di depan sekolahnya, saya hampir meneteskan air mata, saat anaku masuk menikmati sekolahnya. Saya tak tahu apa yang dia cita-citakan, tapi nampaknya ia sedang menikmati usaha memasang cita-cita. Selamat meraih cita-cita, selamat mencipta mimpi-mimpimu, nak. Kami akan berusaha, dan terus berusaha menjadi teman meraih asamu, semampu kami.
Senin, 21 Juli 2008
Ini harimu, dan esok [semoga] juga harimu
Selasa, 01 Juli 2008
Memilih muslim moderat saja

Bulan Juni yang baru saja lewat menyisakan pertanyaan buat kami, sebagai warga biasa: mau milih Islam Fundamental (FPI, dkk) atau Islam sekuler(AKKBB[?])? Pemojokan itu berawal dari peritiwa Insiden Monas, 1 Juni 2008 di Jakarta. Peristiwa yang sebetulnya biasa, buat Indonesia kini, semakin ramai karena telah memunculkan korban yang tidak sedikit (sebagian orang terkenal, tokoh). Yang berakibat ditangkapnya tokoh-tokoh yang lain. Kini, awal Juli, buntut Insiden Monas masih jadi bahan pembicaraan (debat, yang tak jarang debat kusir baik di tingkat atas atau masyarakat bawah). Ujung pembicaraan selalu ada pemetaan, ada di kubu mana?
Kalau kami, jika dihadapkan posisi seperti ini, yang terpaksa harus memilih/membela, rasa-rasanya lebih memilih moderat saja. Namun, kalau dipotong peristiwa Insiden Monas an sich, kami akan berpihak pada AKKBB. Karena dapat diperumpamakan seperti ini, dalam pertandingan sepakbola (karena kami memang gemar permainan yang sangat sportif dan fairplay di lapangan hijau ini) jika ada dua pihak yang menimbulkan keributan, maka pihak yang memprovokasi (AKKBB) akan mendapat kartu kuning, dan pihak yang terprovokasi dan melakukan tindak di luar aturan, dikartu merah. Provok-memprovok diambil dari pendapat kapten LUI (Laskar Umat Islam), Munarman. Tetapi cerita tidak sampai di situ saja, ibarat tanggal masih ada tanggal 2-30 Juni, yang terus dijadikan ajang pembelaan atas peristiwa tanggal 1 itu oleh para pihak yang terlibat. Dan, sejak itulah fakta mulai kabur dan dikaburkan, tak jarang muncul fitnah-fitnah.
Sebagai warga biasa, hembusan berita-berita pembenaran itu lama-kelamaan menjadi membosankan. Sampailah kami pada kesimpulan, politik telah mengambil peran dalam kejadian itu. Untuk itulah kami memilih muslim moderat saja, tidak ikut-ikutan berpolitik yang sedang bertarung di situ.
Dalam beragama kami milih bersahabat dengan siapa saja, tidak ada di salah satu polar ekstrim. Pilihan ini memang tidak beresiko dan tidak berbahaya bagi kehidupan kenegaraan (keluarga) kami. Kesan bahwa pilihan kami tidak membawa pembaharuan memang benar adanya. Tapi, bagi kami, tidak ada yang baru bukan suatu masalah besar dalam beragama kami, yang penting dan utama adalah nuansa pembebasan dari segala cengkraman, termasuk dari kepeningan politikus.
Dalam memandang agama lain kami mengambil metodenya (Almarhum) Koentowidjojo, sejarawan asal Yogyakarta, yakni berpikir obyektif tentang agama/keyakinan/aliran tidak memerlukan pertimbangan teologis benar-salah agama lain. Agama/keyakinan/aliran lain tidak memerlukan pembenaran teologis agama kami, untuk menjamin eksistensinya di tengah-tengah mayoritas agama kami. Kami tidak perlu repot-repot tahu tentang kedudukan teologis agama lain itu. Budayawan Cak Nun mengumpamakan, agama/kepercayaan lain adalah ibarat istri tetangga. Baik-buruknya, seksi-tidaknya, cantik-jeleknya, jangan diukur dengan ukuran istri kita. Biarkan ia ada dengan adanya saat itu.
Akhirnya kami kembali pada keseharian kami: menikmati Piala Euro 2008, mencoba bernafas dalam himpitan harga-harga kebutuhan yang semakin mahal, berpuasa dengan keingingan-keinginan kebutuhan sekunder, dan kadang tertawa dengan sesama warga. Namun, kami tetap saja menyimak apa yang terjadi dengan Indonesia, baik skala nasional maupun skala Ke-RT-an.
Saat para penggemar Spanyol bersuka ria; penggemar Jerman dan kontestan piala Eropa sedih dengan kegagalannya, awal Juli ini kita kembali membuktikan keberanian para pemimpin negeri ini dalam penderitaan rakyat yang tak kunjung henti. Para pemimpin yang dipilih mayoritas pemilih ini dengan berani menaikkan harga gas elpiji dan BBM (industri), di tengah perlawanan masyarakat menolak BBM.
Haruskah doa kami lantunkan dengan jeritan, agar doa kami semakin terkabulkan: kami terlepas dari penderitaan.Rasanya tidak, karena di hadapan para Penguasa sebenarnya (Sang Khalik) itulah kami percaya. Rintihan doa dalam kemoderatan kemusliman tetap kami lantunkan dalam teriakan perlawanan terhadap para pemimpin yang semakin menindas.
Senin, 09 Juni 2008
Juni kelabu


Bulan Juni merupakan bulan yang agak istimewa bagiku. Dari 12 bulan yang dianggap sebagai penanda waktu per tahunnya, bulan ke-6 inilah saya lahir. Dan saya, setiap bulan Juni, selalu kembali memikirkan tentang kehidupan.
Namun, memasuki awal bulan hke-6 tahun 2008 ini rasanya saya agak malas menghadapinya. Bukan karena tanggal 1 jatuh pada hari minggu (libur), yang biasa kami manfaatkan untuk acara rekreatif (bahkan terkadang konsumtif) bersama keluarga, namun paling tidak ada dua hal. Pertama, tidak lolosnya Inggris dalam final Piala Eropa di Austria dan Swiss, dan kedua seminggu sebelum tanggal 1 (25/5/2008) harga BBM akan naik. Keseharian masyarakat mengatakan, naiknya BBM tentu akan menaikkan semua biaya hidup: ekonomi, politik, sosial, budaya, dan mungkin beragama.
Yang selanjutnya saya semakin malas adalah datangnya sebuah berita tentang adanya kejadian kekerasan di Monas, Jakarta.
Juni kelabu
Bulan Juni merupakan bulan yang agak istimewa bagiku. Dari 12 bulan yang dianggap sebagai penanda waktu per tahunnya, bulan ke-6 inilah saya lahir. Dan saya, setiap bulan Juni, selalu kembali memikirkan tentang kehidupan.
Namun, memasuki awal bulan hke-6 tahun 2008 ini rasanya saya agak malas menghadapinya. Bukan karena tanggal 1 jatuh pada hari minggu (libur), yang biasa kami manfaatkan untuk acara rekreatif (bahkan terkadang konsumtif) bersama keluarga, namun paling tidak ada dua hal. Pertama, tidak lolosnya Inggris dalam final Piala Eropa di Austria dan Swiss, dan kedua seminggu sebelum tanggal 1 (25/5/2008) harga BBM akan naik. Keseharian masyarakat mengatakan, naiknya BBM tentu akan menaikkan semua biaya hidup: ekonomi, politik, sosial, budaya, dan mungkin beragama.
Yang selanjutnya saya semakin malas adalah datangnya sebuah berita tentang adanya kejadian kekerasan di Monas, Jakarta.
Juni kelabu
Bulan Juni merupakan bulan yang agak istimewa bagiku. Dari 12 bulan yang dianggap sebagai penanda waktu per tahunnya, bulan ke-6 inilah saya lahir. Dan saya, setiap bulan Juni, selalu kembali memikirkan tentang kehidupan.
Namun, memasuki awal bulan hke-6 tahun 2008 ini rasanya saya agak malas menghadapinya. Bukan karena tanggal 1 jatuh pada hari minggu (libur), yang biasa kami manfaatkan untuk acara rekreatif (bahkan terkadang konsumtif) bersama keluarga, namun paling tidak ada dua hal. Pertama, tidak lolosnya Inggris dalam final Piala Eropa di Austria dan Swiss, dan kedua seminggu sebelum tanggal 1 (25/5/2008) harga BBM akan naik. Keseharian masyarakat mengatakan, naiknya BBM tentu akan menaikkan semua biaya hidup: ekonomi, politik, sosial, budaya, dan mungkin beragama.
Yang selanjutnya saya semakin malas adalah datangnya sebuah berita tentang adanya kejadian kekerasan di Monas, Jakarta.
Jumat, 16 Mei 2008
DISURUH BANGKIT TAPI KOK BBM NAIK

Sebagai manusia yang mengais rejeki sebagai kuli bulan Mei terasa agak istimewa. Bagaimana tidak, buruh, peran yang kami lakoni diperingati oleh sesama manusia senasib di muka bumi ini. Tepatnya tanggal 1 Mei, teriakan-teriakan penderitaan tiap hari yang kami hadapi terasa agak lega terucap. Teriakan-teriakan itu terkadang menjadi sebuah tuntutan, yang memang sepertinya akan tidak mungkin dipenuhi oleh pemimpin yang lebih banyak mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Tak jarang, kami-kami ini sering menjadi sebatas komoditas.
Sebagian dari kami memang tidak terjun langsung di lapangan untuk memperingati hari yang telah dikonotasikan aliran tertentu. Tapi bagi kami, aliran apa pun tak kami hiraukan, yang penting adalah ketulusan untuk membela nasib manusia-manusia seperti kami. Jumlah kami tidak sedikit. Seperti di tempat tinggal kami, yang sekarang memiliki gelar sebagai sebuah wilayah administratif kota, akan mencatat sejarah pemilihan walikota pertama. Kami pun tak perduli siapa yang naik, dari partai apa, dari golongan apa, jenis kelamin apa, gaya rambut seperti apa, yang penting ia tulus dan ikhlas memikirkan kepentingan kami. Adakah calon walikota seperti tuntutan kami ini. Moga aja ada.
Medio Mei ini kami nampaknya akan menghadapi nasib yang lebih memprihatinkan. Bagaimana tidak, komoditi ekonomi utama harganya akan naik. Tentunya semua barang-barang akan naik. Diganti dengan BLT, rasanya tidak akan menyelesaikan masalah kami nanti. Selain kami bukan warga yang menerima, walau kami pantas menerima, dampak kenaikan ini tidak akan berhenti dalam kurun waktu sesuai bantuan BLT. Sementara itu, upah kami tidak beranjak naik. Akhirnya, pilihan kesederhanaan dalam keterbatasan menjadi pilihan yang tak dapat kami tolak.
Kenaikan ini memang bukan mengagetkan. Karena kenaikan harga minyak dunia akan dijadikan alasan utama pemerintah (penjahat?). Padahal menurut banyak ahli banyak pilihan yang bisa diambil oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah ini. Ampun deh, pemimpin kok pikirannya cekak, hanya mikirkan nasibnya sendiri.
Untung saja kami bukanlah orang yang mudah lupa bagaimana menghadapi masa-masa sulit. Karena kesulitan yang disebabkan keterbatasan pemerintah adalah keseharian kami, jadi bulan-bulan ke depan kesulitan yang lebih dari bulan ini merupakan tantangan kami sebagai manusia biasa dalam bertahan hidup.
PANGGIL AKU ZONNIG SAJA


Alhamdulillah,
31 MARET 2008 menjadi bagian penting buat kami, tepatnya sejak pukul 12.35 wib. Sejak saat itu aku menjadi seorang bapak dengan tiga orang anak; istriku menjadi ibu dengan tiga orang anak; Siraj, anak pertama kami, menjadi kakak dengan dua adik; Matari, anak kedua kami, menjadi kakak dengan satu adik; emakku, nenek satu-satunya anak-anak kami yang masih diberi kesempatan hidup, menjadi nenek dengan 21 cucu. Hari yang cerah itu, seisi rumah kami berubah dengan kehadiran seorang bayi laki-laki.
Hadirnya bayi dengan bobot 4,2 kg di hadapan mata sangat membuat hidup kami terasa semakin indah di tengah-tengah kehidupan yang serba ngawur (tanpa aturan yang baik) dan gelap ini ini. Bayi sehat ini kami beri nama OMAR ZONNIG TRISTAN.
Terdengar aneh dan tidak familiar (terbiasa) memang di telinga kita. Tapi aneh dan tidak familiar bukanlah masalah dalam pemberian nama untuk anak kami. Yang terpenting bagi kami adalah arti, bukan bahasa apa/mana. OMAR kami ambil dari nama tokoh besar dalam peradaban dunia. Paling tidak ada tiga nama Omar (Umar) yang menjadi pencerah dan kegemilangan dunia: Umar bin Khatab (sahabat nabi dan pemimpin umat yang berani), Umar bin Abdul Aziz (pemimpin yang jujur dan cerdas), dan Umar Kayyam (penulis yang mulia). ZONNIG adalah kata dalam bahasa Belanda yang artinya Matahari bersinar, dan TRISTAN adalah kata dalam bahasa Inggri kuno yang berarti berani, tangguh, dan kuat.
Semoga ia menjadi manusia pencerah dunia yang kuat/tangguh/berani.
Serang, Mayday 2008.
Kami yang berbahagia:
Radjimo Sastrowi, Siti Suharsih, M. Azka Sirajulabkar, dan Fatima Matari Cerah
Keluarga Besar (Alm.) Saleh Sidik, Serang.
Keluarga Besar (Alm.) Warto Wijono, Semarang.
Bersama
Pengunjung ke
Gang Raflesia
Banten, Indonesia 42122