Senin, 09 Juni 2008

Juni kelabu




Bulan Juni merupakan bulan yang agak istimewa bagiku. Dari 12 bulan yang dianggap sebagai penanda waktu per tahunnya, bulan ke-6 inilah saya lahir. Dan saya, setiap bulan Juni, selalu kembali memikirkan tentang kehidupan.

Namun, memasuki awal bulan hke-6 tahun 2008 ini rasanya saya agak malas menghadapinya. Bukan karena tanggal 1 jatuh pada hari minggu (libur), yang biasa kami manfaatkan untuk acara rekreatif (bahkan terkadang konsumtif) bersama keluarga, namun paling tidak ada dua hal. Pertama, tidak lolosnya Inggris dalam final Piala Eropa di Austria dan Swiss, dan kedua seminggu sebelum tanggal 1 (25/5/2008) harga BBM akan naik. Keseharian masyarakat mengatakan, naiknya BBM tentu akan menaikkan semua biaya hidup: ekonomi, politik, sosial, budaya, dan mungkin beragama.

Yang selanjutnya saya semakin malas adalah datangnya sebuah berita tentang adanya kejadian kekerasan di Monas, Jakarta.

baca selanjutnya..

Juni kelabu

Bulan Juni merupakan bulan yang agak istimewa bagiku. Dari 12 bulan yang dianggap sebagai penanda waktu per tahunnya, bulan ke-6 inilah saya lahir. Dan saya, setiap bulan Juni, selalu kembali memikirkan tentang kehidupan.

Namun, memasuki awal bulan hke-6 tahun 2008 ini rasanya saya agak malas menghadapinya. Bukan karena tanggal 1 jatuh pada hari minggu (libur), yang biasa kami manfaatkan untuk acara rekreatif (bahkan terkadang konsumtif) bersama keluarga, namun paling tidak ada dua hal. Pertama, tidak lolosnya Inggris dalam final Piala Eropa di Austria dan Swiss, dan kedua seminggu sebelum tanggal 1 (25/5/2008) harga BBM akan naik. Keseharian masyarakat mengatakan, naiknya BBM tentu akan menaikkan semua biaya hidup: ekonomi, politik, sosial, budaya, dan mungkin beragama.

Yang selanjutnya saya semakin malas adalah datangnya sebuah berita tentang adanya kejadian kekerasan di Monas, Jakarta.

baca selanjutnya..

Juni kelabu

Bulan Juni merupakan bulan yang agak istimewa bagiku. Dari 12 bulan yang dianggap sebagai penanda waktu per tahunnya, bulan ke-6 inilah saya lahir. Dan saya, setiap bulan Juni, selalu kembali memikirkan tentang kehidupan.

Namun, memasuki awal bulan hke-6 tahun 2008 ini rasanya saya agak malas menghadapinya. Bukan karena tanggal 1 jatuh pada hari minggu (libur), yang biasa kami manfaatkan untuk acara rekreatif (bahkan terkadang konsumtif) bersama keluarga, namun paling tidak ada dua hal. Pertama, tidak lolosnya Inggris dalam final Piala Eropa di Austria dan Swiss, dan kedua seminggu sebelum tanggal 1 (25/5/2008) harga BBM akan naik. Keseharian masyarakat mengatakan, naiknya BBM tentu akan menaikkan semua biaya hidup: ekonomi, politik, sosial, budaya, dan mungkin beragama.

Yang selanjutnya saya semakin malas adalah datangnya sebuah berita tentang adanya kejadian kekerasan di Monas, Jakarta.

baca selanjutnya..

Jumat, 16 Mei 2008

DISURUH BANGKIT TAPI KOK BBM NAIK



Sebagai manusia yang mengais rejeki sebagai kuli bulan Mei terasa agak istimewa. Bagaimana tidak, buruh, peran yang kami lakoni diperingati oleh sesama manusia senasib di muka bumi ini. Tepatnya tanggal 1 Mei, teriakan-teriakan penderitaan tiap hari yang kami hadapi terasa agak lega terucap. Teriakan-teriakan itu terkadang menjadi sebuah tuntutan, yang memang sepertinya akan tidak mungkin dipenuhi oleh pemimpin yang lebih banyak mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Tak jarang, kami-kami ini sering menjadi sebatas komoditas.

Sebagian dari kami memang tidak terjun langsung di lapangan untuk memperingati hari yang telah dikonotasikan aliran tertentu. Tapi bagi kami, aliran apa pun tak kami hiraukan, yang penting adalah ketulusan untuk membela nasib manusia-manusia seperti kami. Jumlah kami tidak sedikit. Seperti di tempat tinggal kami, yang sekarang memiliki gelar sebagai sebuah wilayah administratif kota, akan mencatat sejarah pemilihan walikota pertama. Kami pun tak perduli siapa yang naik, dari partai apa, dari golongan apa, jenis kelamin apa, gaya rambut seperti apa, yang penting ia tulus dan ikhlas memikirkan kepentingan kami. Adakah calon walikota seperti tuntutan kami ini. Moga aja ada.

Medio Mei ini kami nampaknya akan menghadapi nasib yang lebih memprihatinkan. Bagaimana tidak, komoditi ekonomi utama harganya akan naik. Tentunya semua barang-barang akan naik. Diganti dengan BLT, rasanya tidak akan menyelesaikan masalah kami nanti. Selain kami bukan warga yang menerima, walau kami pantas menerima, dampak kenaikan ini tidak akan berhenti dalam kurun waktu sesuai bantuan BLT. Sementara itu, upah kami tidak beranjak naik. Akhirnya, pilihan kesederhanaan dalam keterbatasan menjadi pilihan yang tak dapat kami tolak.

Kenaikan ini memang bukan mengagetkan. Karena kenaikan harga minyak dunia akan dijadikan alasan utama pemerintah (penjahat?). Padahal menurut banyak ahli banyak pilihan yang bisa diambil oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah ini. Ampun deh, pemimpin kok pikirannya cekak, hanya mikirkan nasibnya sendiri.

Untung saja kami bukanlah orang yang mudah lupa bagaimana menghadapi masa-masa sulit. Karena kesulitan yang disebabkan keterbatasan pemerintah adalah keseharian kami, jadi bulan-bulan ke depan kesulitan yang lebih dari bulan ini merupakan tantangan kami sebagai manusia biasa dalam bertahan hidup.

baca selanjutnya..

PANGGIL AKU ZONNIG SAJA







Alhamdulillah,

31 MARET 2008 menjadi bagian penting buat kami, tepatnya sejak pukul 12.35 wib. Sejak saat itu aku menjadi seorang bapak dengan tiga orang anak; istriku menjadi ibu dengan tiga orang anak; Siraj, anak pertama kami, menjadi kakak dengan dua adik; Matari, anak kedua kami, menjadi kakak dengan satu adik; emakku, nenek satu-satunya anak-anak kami yang masih diberi kesempatan hidup, menjadi nenek dengan 21 cucu. Hari yang cerah itu, seisi rumah kami berubah dengan kehadiran seorang bayi laki-laki.

Hadirnya bayi dengan bobot 4,2 kg di hadapan mata sangat membuat hidup kami terasa semakin indah di tengah-tengah kehidupan yang serba ngawur (tanpa aturan yang baik) dan gelap ini ini. Bayi sehat ini kami beri nama OMAR ZONNIG TRISTAN.

Terdengar aneh dan tidak familiar (terbiasa) memang di telinga kita. Tapi aneh dan tidak familiar bukanlah masalah dalam pemberian nama untuk anak kami. Yang terpenting bagi kami adalah arti, bukan bahasa apa/mana. OMAR kami ambil dari nama tokoh besar dalam peradaban dunia. Paling tidak ada tiga nama Omar (Umar) yang menjadi pencerah dan kegemilangan dunia: Umar bin Khatab (sahabat nabi dan pemimpin umat yang berani), Umar bin Abdul Aziz (pemimpin yang jujur dan cerdas), dan Umar Kayyam (penulis yang mulia). ZONNIG adalah kata dalam bahasa Belanda yang artinya Matahari bersinar, dan TRISTAN adalah kata dalam bahasa Inggri kuno yang berarti berani, tangguh, dan kuat.

Semoga ia menjadi manusia pencerah dunia yang kuat/tangguh/berani.

Serang, Mayday 2008.
Kami yang berbahagia:
Radjimo Sastrowi, Siti Suharsih, M. Azka Sirajulabkar, dan Fatima Matari Cerah
Keluarga Besar (Alm.) Saleh Sidik, Serang.
Keluarga Besar (Alm.) Warto Wijono, Semarang.

baca selanjutnya..

Rabu, 02 April 2008

Perang tetangga


April 2008 gambar kalender di ruanganku adalah para pekerja di bidang kelistrikan yang sedang memasang kabel-kabel di ketinggian. Seketika saya ingat, bahwa mulai bulan ini pemerintah akan memberlakukan intensif dan disintensif bagi pelanggan listrik. Rumah kami kecil, tentu saja, kami mengharap akan mendapat insentif, karena di rumah kami sudah menerapkan hemat energi dan ramah lingkungan.

Namun, masalah kelistrikan ini tidak menjadi bahan yang terlalu dipusingkan oleh kami, warga gang raflesia. Kami malah sibuk dan asyik membicangkan perang di antara kami. Tentu saja bukan perang vendetta atau perang fisik untuk mempertahankan kehormatan atau penguasaan harta. Perang yang kami lakoni adalah perang antarpenggemar bola. Dan, perang ini hampir terjadi tiap pekan.

Perang di bulan April ini seru. Selain musim kompetisi akan berakhir (dalam liga-liga yang biasa kami nikmati: EPL, La Liga, Liga Calcio), dalam liga antarklub di Eropa musim kali ini juga telah menyisakan delapan klub. Tentu saja babak per delapan final ini sangat enak dinikmati. Dan, yang mungkin dianggap partai paling seru adalah partai antar dua klub Inggris: Arsenal dan Liverpool. Ini artinya, ada perang tetangga di gang kami.

Gang raflesia yang dihuni oleh keluarga muda, sebagian besar adalah penggila bola. Dan uniknya, masing-masing memiliki klub kesukaan yang berbeda. Tentu saja, jika dua tim yang disukai (biasanya tim-tim besar) bertemu, gegerlah gang kami pada esok harinya (setelah pertandingan). Perang biasanya dimulai pada pra pertandingan dan paska pertandingan. Saat pertandingan berlangsung, biasanya kami hanya menonton di rumah masing-masing. Maklum saja, kami memiliki anak-anak kecil, yang biasanya nonton bola sambil momong anak. Dan kalau toh saat pertandingan terjadi perang, biasanya hanya lewat pesan singkat.

Di minggu awal sampai pertengahan bulan ini akan bertemu dua tim besar asal Inggris sebanyak tiga kali. Dua kali untuk pertandingan Liga Champion Eropa, dan satunya untuk EPL. Arsenal melawan Liverpool dalam tiga kali pertandingan ini pasti seru, dan perang antar tetangga juga akan seru. Bagi saya, yang menyukai Liverpool tentu berharap tim ini akan menang. Sebaliknya, bagi Bapaknya Aan yang menyukai Arsenal mengharap Arsenal yang menang. Entah klub mana yang menang, tunggu waktu pertandingannya saja.

Dalam perang ini, terutama dalam Liga Champion saya yang biasanya nonton sendirian, sepertinya tidak sendirian lagi. Bayi mungil, adiknya Siraj dan Matari, yang kelak dipanggil Zonnig akan menjadi teman nontonku. ia yang lahir Senin, 31 Maret 2008, pkl. 12.35 dengan berat 4,2 kg dan tinggi 51 cm akan menjadi teman dan penjaga rasa kantukku. Dan, kalau Liverpool menang berarti perang milik kami berdua.

Perang-perangan ini sangat menyenangkan bagi kami, selain untuk mengilangkan kepenatan urusan kerja (sebagai kuli), juga sebagai sarana kami untuk saling mengenal dalam bertetangga.

baca selanjutnya..

Rabu, 26 Maret 2008

AKHOBAH: Nama masjid kami



Sebagian orang berpendapat apa arti sebuah nama. Sebagian orang lain berpendapat nama adalah segalanya. Kita termasuk bagian kelompok mana: menganggap penting sebuah nama atau tidak menganggap penting sebuah nama. Ya, tentu kita termasuk kelompok orang yang menganggap nama adalah penting. Lantas, mengapa masjid di kawasan Kelapa Gading namanya AKHOBAH. Tidak nama yang lain. Dan, apa pentingnya sebuah nama AKHOBAH buat kawasan Kelapa Gading, Kota Serang Baru.

Singkat kisahnya kurang lebih begini. Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Serang, Panitia Pembangunan Masjid yang dan Ketua RW 08 Kelurahan Banjar Agung merasa sangat bahagia, setelah ditandatanganinya perjanjian pemberian donasi untuk sebuah masjid di kawasan Kelapa Gading. Kelelahan memang dirasakan oleh dua rombongan mobil yang ingin mengikuti peristiwa penting bagi kawasan perumahan di KSB ini. Namun, kelelahan terasa hilang setelah ditandatangani perjanjian.

Dalam perjalanan pulang, tawa riang mengiringi sepanjang jalan. Obrolan serius dan mimpi-mimpi membangun masjid berkembang di sepanjang perjalanan. Tentang nama masjid, sejak awal memang telah disadari oleh perwakilan warga bahwa penamaan tidak mungkin dapat dipilih oleh warga: pastinya nama akan diberikan oleh pendonor. Benar sekali, si penyumbang ingin namanya menjadi nama sebuah masjid: Amnah Khojak Bakkah. Di sela-sela pembicaraan dalam perjalanan beberapa orang merasakan nama masjid sepertinya aneh (susah diingat). Tak tahu bagaimana persisnya, Pak RW mengusulkan nama yang panjang itu disingkat menjadi AKHOBAH. Seolah semua setuju, dan, hingga kini nama itu melekat pada sebuah bangunan yang dicita-citakan menjadi masjid yang indah dan makmur di kawasan Kelapa Gading, KSB.

baca selanjutnya..

Bersama

Pengunjung ke

Gang Raflesia

Jl. Raflesia, Kawasan Kelapagading Blok S-T, Kota Serang Baru,
Banten, Indonesia 42122