Rabu, 26 Maret 2008

AKHOBAH: Nama masjid kami



Sebagian orang berpendapat apa arti sebuah nama. Sebagian orang lain berpendapat nama adalah segalanya. Kita termasuk bagian kelompok mana: menganggap penting sebuah nama atau tidak menganggap penting sebuah nama. Ya, tentu kita termasuk kelompok orang yang menganggap nama adalah penting. Lantas, mengapa masjid di kawasan Kelapa Gading namanya AKHOBAH. Tidak nama yang lain. Dan, apa pentingnya sebuah nama AKHOBAH buat kawasan Kelapa Gading, Kota Serang Baru.

Singkat kisahnya kurang lebih begini. Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Serang, Panitia Pembangunan Masjid yang dan Ketua RW 08 Kelurahan Banjar Agung merasa sangat bahagia, setelah ditandatanganinya perjanjian pemberian donasi untuk sebuah masjid di kawasan Kelapa Gading. Kelelahan memang dirasakan oleh dua rombongan mobil yang ingin mengikuti peristiwa penting bagi kawasan perumahan di KSB ini. Namun, kelelahan terasa hilang setelah ditandatangani perjanjian.

Dalam perjalanan pulang, tawa riang mengiringi sepanjang jalan. Obrolan serius dan mimpi-mimpi membangun masjid berkembang di sepanjang perjalanan. Tentang nama masjid, sejak awal memang telah disadari oleh perwakilan warga bahwa penamaan tidak mungkin dapat dipilih oleh warga: pastinya nama akan diberikan oleh pendonor. Benar sekali, si penyumbang ingin namanya menjadi nama sebuah masjid: Amnah Khojak Bakkah. Di sela-sela pembicaraan dalam perjalanan beberapa orang merasakan nama masjid sepertinya aneh (susah diingat). Tak tahu bagaimana persisnya, Pak RW mengusulkan nama yang panjang itu disingkat menjadi AKHOBAH. Seolah semua setuju, dan, hingga kini nama itu melekat pada sebuah bangunan yang dicita-citakan menjadi masjid yang indah dan makmur di kawasan Kelapa Gading, KSB.

baca selanjutnya..

Rabu, 19 Maret 2008

LIBUR PANJANG ASYIK BUAT KAMI


Maret 2008 bagi keluarga biasa dan manusia biasa yang tak luput dari penderitaan dan penindasan merupakan bulan yang menggembirakan. Karena, ada tiga hari libur di hari kerja efektif. Bagai mendapat berkah, keseharian kami, terutama Bapak-bapak, yang minimal delapan jam diabdikan untuk perusahaan/institusi kerja, dalam tiga hari itu dapat berkumpul dengan keluarga dan lingkungan keluarga.

Berkumpul dengan keluarga biasa seperti kami merupakan anugrah terbesar, walau mungkin tidak disertai kenikmatan seperti layaknya dinikmati kebanyakan pejabat. Berlibur, jelas ini ada di otak kami. Tapi, bukankah berlibur mengeluarkan dana (konsumsi). Sehingga sepertinya keinginan untuk merelaksasi bersama keluarga ini kami buang jauh-jauh. Ada beberapa alternatif kegiatan yang mungkin dapat kami lakukan: beberes rumah, beberes gang, dan olahraga.

Bebeberes rumah ini sudah menjadi rutinitas setiap keluarga di gang kami dalam mengisi hari libur, pun beberes gang. Yang lagi ramai-ramainya diadakan di gang kami dan kawasan kami adalah olahraga, volley bapak-bapak. Kegiatan yang sudah ada sejak kawasan ini dihuni lebih dari 20 KK ini semakin marak karena ada semacam kompetisi. Kami memilahnya menjadi dua kelompok, yang seolah-olah bersiteru. Satu kelompok Bapak-bapak usia 35 ke bawah, dan satu kelompok bapak-bapak usia 35 ke atas. Secara jumlah, usia di bawah 35 ke bawah lebih banyak. Tapi, bukan berarti selalu menang. Paling tidak dalam 4 kali pertandingan, 2 kali dimenangkan kelompok usia 35 ke atas, 1 kali dimenangkan kelompok usia di bawah 35 ke bawah, dan 1 kali seri. Untuk memberi semangat, tim yang kalah diwajibkan mentraktir minum (teh botol atau minuman berkarbonasi) untuk tim pemenang. Seru! Apakah ini judi! Bagi kami tidak.

Merayakan hidup kebersamaan dengan kegiatan olahraga ini sangat membuat kami betah tinggal, hidup terasa asyik.

Paling tidak dengan merayakan ini kami sedikit melupakan urusan para penindas yang sedang siap-siap merebut kursi kekuasaan untuk menjadi walikota Serang (Cawalkot Mulai Bergerilya, Radar Banten 19 Maret 2008), atau para penindas di pusat kekuasaan yang dilegalkan untuk menjadi impunitas (Kompas 19 Maret 2008) Imbauan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada para purnawirawan TNI untuk tidak datang memenuhi panggilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan cukup memberikan jawaban tertulis memicu kritik pedas dari kalangan lembaga swadaya masyarakat bidang HAM). Kalau toh masalah-masalah itu tak dapat dilupakan sesaat, kami melupakan urusan penindas-penindas di tempat kerja. Harapannya, kami sehat seperti manusia yang menjadi manusia.

baca selanjutnya..

Proposal pembangunan masjid


Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imran [3]: 110).


Salah satu kelengkapan dalam lingkungan perumahan adalah rumah ibadah, apalagi sebuah kompleks perumahan yang dihuni oleh mayoritas beragama Islam. Bagi kaum muslimin masjid merupakan titik awal dan titik akhir dalam beraktifitas, baik beribadah mahdhoh maupun beribadah mu’amalah. Masjid sebagai penyempurna dalam upaya mendapatkan gelar umat terbaik dari Allah SWT, yang berperan sebagai tempat menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Karena masjid adalah pusat pembinaan, memakmurkan ummat, membimbing, ummat taat beribadah, dan menuntun ummat memperbaiki kehidupan lingkungan.

Tantangan saat ini dalam pembangunan yang lebih mengutamakan pembangunan fisik (materi) semata telah mengakibatkan munculnya manusia-manusia yang haus akan sentuhan pembangunan rohani (spiritual). Akibat lebih jauh pembangunan yang demikian itu adalah ditinggalkannya agama dalam makna hidup mereka (sekulerisme). Dan untuk menyikapi laju pembangunan seperti ini kehadiran masjid, sebuah ruang publik, di sebuah kompleks perumahan merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak. Kehadiran masjid di sekitar kompleks perumahan akan menjadi tempat mengingat kebesaran sang pencipa (mushola), sebagai tempat belajar (madrasah), dan pusat kegiatan masyarakat.

Sehingga, berbagai masalah ummat Islam dimusyawarahkan di masjid. Sedangkan perbuatan baik dalam hal ibadah sosial kemasyarakatan, pelaksanaannya dapat dikerjakan sendiri per orang maupun bersama-sama di lingkungan masjid atau jamaah masjid.
Seperti di kompleks perumahan Kawasan Kelapa Gading Kota Serang Baru (KSB), Serang-Banten, dengan 450 rumah hunian, kehadiran masjid sangatlah penting. Apalagi dengan hampir ½ bangunan rumah yang dibangun telah berpenghuni, yang mayoritas beragama Islam (96%). Kehadiran sebuah masjid menjadi suatu kebutuhan yang tak dapat dinomorkeduakan. Sehingga, dengan keberadaan masjid di lingkungan kompleks perumahan baru ini kehidupan masyarakat akan memunyai arah yang jelas. Sebuah arah kehidupan sesuai dengan ajaran Islam yang mencakup kehidupan rohani dan jasmani, dunia dan akhirat, lahir dan bathin.

Alhamdulillah sejak 18 September 2005 pembangunan masjid berhasil dilakukan dan sampai 31 Desember 2006 telah mencapai 50% dari total proyek dengan nilai biaya Rp 444.256.139,89. Insya Allah Januari 2007 pembangunan tahap selanjutnya akan dilakukan.


B. TUJUAN

“Barang siapa membangun (mendirikan) masjid karena Allah, maka Allah akan mendirikan bangunan (rumah) di surga” (HR. Bukhori Muslim).

Tujuan utama dari pembangunan masjid di lingkungan kompleks Kawasan Kelapa Gading adalah sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT. Selain sebagai sarana ibadah, masjid di kawasan ini juga akan difungsikan sebagai:
1. Tempat syiar Agama Islam;
2. Tempat Pendidikan Agama Islam;
3. Tempat kegiatan sosial kemasyarakatan (ukhuwah Islamiyah).

C. WAKTU PELAKSANAAN
Pembangunan masjid ini mulai dilaksanakan sejak 18 September 2005. Sampai bulan Desember 20056 telah mencapai 50% dari jumlah total proyek (100%). Dan direncanakan akan selesai pada bulan Juni 2008.

D. PELAKSANA
Proyek pembangunan masjid ini teknis pelaksanaanya dipegang oleh: Panitia yang telah ditunjuk berdasar pada rapat warga Kawasan Kelapa Gading tanggal 17 Septemer 2005. (terlampir).
Alamat sekretariat: Kawasan Kelapa Gading Blok T No. 15, Kota Serang Baru (KSB), Serang – Banten, tlp: 0254-214561.
Kontak person: Joni Sah (081315090510).


E. PENDANAAN
Besarnya dana yang dibutuhkan Rp 485.256.000,-
Dana pembangunan masjid di kawasan telah didapatkan dari:
1. Donatur utama Rp 270.000.000,-
2. Sumbangan warga Kawasan Kelapa Gading, Rp 20.000.000,
Untuk kekurangan dana (Rp 195.256.000,-) pembangunan masjid direncanakan didapatkan dari:
1. Sumbangan warga Kawasan Kelapa Gading, Kota Serang Baru;
2. Donatur;
3. Zakat, infaq, dan shodaqoh.
4. Sumbangan lain yang halal

F. PENUTUP
Demikian proposal ini kami susun. Kami berharap doa dan dukungan dari semua pihak demi kelancaran rencana pembangunan masjid di kawasan Kelapa Gading guna menciptakan lingkungan islami dan penuh rahmat.

Serang, Januari 2007

Panitia Pembangunan Masjid Amnah Khojah Bakkah

Ir. Joni Sah
Ketua Panitia

Radjimo Sastrowi
Sekretaris

baca selanjutnya..

Selasa, 18 Maret 2008

MENUNGGU ADIK SIRAJ DAN MATARI


ISTRIKU SEMPAT NGIKUTI WISUDA


Bulan Maret 2008 usia kandungan istriku mencapai delapan bulan lebih. Ini artinya, kami harus siap-siap dengan kedatangan anggota baru di rumah kami. Perlengakan bayi, yang pernah dipakai Siraj dan Matari dibuka dan diperiksa kembali. Perlengakpan yang pernah dipakai Siraj sudah tidak ada lagi, sedangkan yang pernah dipakai Matari sebagian masih bisa dipakai. Untuk itu, kami harus melengkapinya dengan yang baru: kasur, tas, popok, baju, dll.

Tidak hanya persiapan perlengkapan, kami pun sudah mengancang-ancang persiapan waktu, psikologis, sosial, dan finansial (walau tak banyak). Untuk waktu, istriku yang pada kelahiran anak ke-3 tidak mendapat cuti, cukup diuntungkan dengan jadwal akademisnya. Ia yang PNS –pengajar—saat ini sedang tidak ada jadwal mengajar. Nantinya, ia akan mendapat waktu libur hanya satu bulan. Sementara saya, yang nguli di Jakarta, harus bolak-balik setiap hari. Saya menjadi kuli yang komuter, dari Serang ke Jakarta. Setiap harinya saya habiskan waktu 4-5 jam, bahkan terkadang 6 jam di jalan. Nantinya, pas saat kelahiran, saya tidak tahu apakah saya dapat libur apa tidak.

Secara psikologis kami membayangkan nanti bakalan lebih capek, mudah stress, dan mungkin mudah marah. Untuk itu, kami berusaha untuk lebih sabar. Apalagi Siraj dan Matari sudah tahap mementingkan egonya. Mereka sudah sering berkonflik, untuk merebutkan sesuatu. Sepertinya berlatih sabar dalam menghadapi konflik dan perselisihan antar-anak, berlatih lebih memperhatikan mereka cara yang baik untuk mempersiapkan beban psikologis memunyai anak tiga yang masih kecil-kecil.

Secara sosial, dalam lingkup gang, RT dan kawasan, kami akan berusaha menjelaskan tahapan secara perlahan. Kami mendedikasikan membangun sebuah keluarga yang tidak condong terhadap adat/tradisi tertentu. Kami akan mengambil, mencontoh, dan memberlakukan sesuatu atas pertimbangan baik untuk kami dan masyarakat secara luas. Kami membayangkan, setelah kelahiran nanti akan muncul ‘tuntuntan’ dari masyarakat untuk mengadakan tradisi setempat, yakni cukuran bayi (marhaban). Bagi kami, tradisi ini kurang produktif, bahkan cenderung konsumtif, untuk itu kami sengaja tidak memakainya. Pada kelahiran Siraj dan Matari tidak ada kegiatan cukuran. Tapi, mungkin kami akan mengadakan syukuran kecil –sesuai kapasitas finansial kami saja, tentunya setelah menunaikan kewajiban utama untuk meng-aqiqohkan. Syukuran yang kami gelar adalah mengundang ibu-ibu –yang sudah terbukti solid dalam menyelenggarakan pengajian rutin setiap malam Jum’at-. Bagi saya, kelahiran adalah buah hasil perjuangan seorang ibu –perempuan-, untuk itu yang berhak untuk mengadakan syukuran adalah ibu-ibu.

Kisah keluarga kami merupakan bagian perjuangan seorang perempuan. Istriku yang seorang pengajar tentu harus memiliki kapasitas yang lebih dibandingkan yang diajar, untuk itu pada tahun 2005 ia melanjutkan kuliah pascasarjana di Universitas Negeri Jakarta. Saat itu, pekerjaan saya hanya menyelesaikan sebuah proyek riset yang cukup prestisius, namun dengan imbalan yang pas-pasan bagi kehidupan keluarga. Demi menyukupi kebutuhan keluarga, istriku harus mencari tambahan dengan mengajar di beberapa lembaga pendidikan.

Tak lama istriku mengikuti perkuliahan dan sibuk mengajar di berbagai lembaga pendidikan, kami diberi amanah punya anak lagi. Istriku diketahi hamil dua bulan pada Oktober 2005. Rutinitas ke Jakarta sepekan tiga kali ia jalani dengan membawa bayi diperutnya sampai bulan Mei 2006. Dan untuk proses kelahirannya ia terpaksa mengambil cuti dari perkuliahan. Kini bayi diperutnya yang dibawa ketika kuliah di semester-semester awal hamper berusia dua tahun. Kewajiban kami, kalau boleh dibilang beban terberat pada istriku, bertambah pada tahun di tahun 2006. Saat kami mulai memiliki anak dua, saya tidak mendapat penghasilan tetap. Saya hanya mendapat penghasilan kalau ada proyek, menulis atau mengikuti seminar-seminar saja. Sedangkan istriku harus mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami, yang terkadang juga keluarga yang lain.

Istriku, untunglah bisa dan terbiasa bersabar, hari-hari kami di lingkungan baru di Kelapagading, KSB, diisi dengan rutinitas istriku berangkat kerja dan aku mengantar dan menjemputnya. Saya lebih banyak di rumah memomong anak dan kadang menulis, yang di bantu seorang petugas yang membersihkan rumah. Kami percaya, dalam urusan rejeki sudah ada tempat dan waktunya, sehingga walau aku hanya bapak rumahtangga saya berusaha tidak gengsi. Untunglah juga para tetangga kami bukanlah orang-orang yang sok usil mengurusi keluarga kami, sampai sejauh ini. Jadi beban psikologis menjadi bapak rumah tangga yang kulakoni tidaklah berat.

Di kala memomong dua anak, sibuk memberi kuliah, dan menyelesaikan studinya kami diberi lagi kepercayaan memunyai anak lagi. Juli 2007 hasil tes kehamilan yang didapat dari seorang dokter mengatakan, dalam perut istriku telah hidup bayi umur beberapa minggu. Kuliah istriku yang ditempuh lebih dari waktu yang ditetapkan dari aturan penerima beasiswa sekarang sudah selesai. Pada tanggal 15 maret 2008 ia mengikuti wisuda. Untuk mengikuti proses yang jamak di setiap universitas di Indonesia ini kami bertiga (saya dan dua anak saya) mendampinginya, walau telat sampai tempat acara karena kami berangkat secara terpisah dengan kendaraan umum. Pulang dari wisuda kami berlima (satu orok ada dalam perut perempuan pemilik gelar M.Pd ini) sangat berbahagia menuju Kota Serang.

Dokter yang kami percayai untuk memeriksa kandungan istriku memprediksikan bayi kemungkinan lahir pada akhir Maret 2008. Dalam penantian adik Siraj dan Matari ini kami diliputi kegembiraan, diantara karena kami berhasil mengikuti wisuda bersama, saya mulai melanjutkan studi, dan tahun ini anak Siraj akan masuk bangku sekolah.

Semoga kebahagian selalu meliputi kami, walau situasi jaman disemwratutkan oleh para penguasa picik.

baca selanjutnya..

MUHAMMAD AZKA SIRAJULAKBAR


PANGGIL AKU SIRAJ SAJA

Ia yang kini lima tahun tiga bulan ini sering dipanggil si-oh, iokh, rojul, terkadang Siraj oleh teman-temannya. Nama lengkapnya MUHAMMAD AZKA SIRAJULAKBAR. Ia lahir 3 hari setelah Idul Fitri tahun 1422 H (2002).

Idul fitri bagi kita --orang muslim yang sebulan berpuasa di bulan Ramadan-- kembali fitrah, suci. Idul Fitri juga momentum kembali pada kampung spiritual. Inilah saat menegaskan komitmen keilahian —yang telah diteken manusia sejak zaman azali— bagi kemanusiaan universal. Buat kami idul fitri 1422 H tidak hanya “mengungkapkan suatu kegembiraan setelah kurang lebih satu bulan berpuasa di siang hari dan kembali seperti biasa makan, minum dan berhubungan seks di siang hari.” Namun juga momen penting diberinya kami kepercayaan (amanah) untuk mendidik anak.

Dalam mendidik anak, Kami tak terlalu memaksakan kemauan kami. Walau namanya bahasa Arab, yang lebih identik dengan kehidupan agama, tapi kami tidak terlalu memaksanya menjadi calon agamawan. Ia kami berikan keleluasaan untuk menjadi apa yang ia inginkan, tentunya menjadi seseorang yang dibutuhkan masyarakat dalam mengentaskan problematika kemiskinan dan kebodohan (kegelapan dunia). Kami memberikan nama buat dia bukan untuk sesuatu gagah-gagahan, agar nampak keren, tapI kami memberikan nama kepadanya agar ia menjadi pencerah dunia.

Dalam bahasa Indonesia nama anak pertama kami ini artinya Muhammad Cahaya Besar yang Suci. Sejak merajut tali pertemanan dengan istri, saya ingin memiliki nama anak Siraj. Selain artinya bagus (Cahaya, Matahari), kata ini bisa juga kependekan dari Si Radjimo Junior. Dan juga, singkatan dari nama istri dan saya. Siti Suharsih dan Radjimo (Si an Radj). Sebelum lahir, kami hanya mempersiapkan satu kata untuk nama ia. Namun untuk menandai waktu dan alam yang terjadi pada saat ia lahir, kami menambahi dengan kata Muhammad Azka dan Akbar. Muhammad karena ia manusia sempurna yang kami patut teladani. Azka (suci) dan Akbar (besar). Sebetulnya saat lahir, tanggal sudah memasuki hari ketiga bulan Syawal, namun gema takbir masih berkumandang. Kata perempuan yang dijaninnya telah tumbuh seorok manusia selama sembilan bulan ini, sayup-sayup takbir terdengar jelas saat sang bayi ada di dunia untuk pertama kalinya ini.

Boleh dibilang proses kelahirannya membutuhkan waktu yang lama. Kalau diibaratkan pertandingan sepakbola, kemenangan yang didapat harus melewati babak perpanjangan waktu dan penalty. Jam 10.10 gejala-gejala akan melahirkan sudah terasa, namun sampai menjelang sore bayi belum juga terpisah dari tubuh istriku. Karena itu, kata bidan, dirawat di rumah sakit merupakan pilihan yang tepat, jika ada hal-hal yang tidak diinginkann. Kami sekeluarga sangat panik mendengar pendapat bidan yang berpengalaman ini. Untunglah, pukul 19.10, tak lama setelah adzan isya dikumandangkan, seorok bayi laki-laki dengan berat 3,1 kg, panjang 51 cm lahir dari rahim istriku.

Kalau Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 8 jenis kecerdasan, Kami memasukkan kecerdasan Spiritual) dalam mendidik anak, yaitu:
1. Cerdas Bahasa – cerdas dalam mengolah kata
2. Cerdas Gambar – memiliki imajinasi tinggi
3. Cerdas Musik – cerdas musik, peka terhadap suara dan irama
4. Cerdas Tubuh – trampil dalam mengolah tubuh dan gerak
5. Cerdas Matematika dan Logika – cerdas dalam sains dan berhitung
6. Cerdas Sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain
7. Cerdas Diri – menyadari kekuatan dan kelemahan diri
8. Cerdas Alam – peka terhadap alam sekitar
9. Cerdas Spiritual – menyadari eksistensi diri (mahkluk) dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta

Ini kami sadari karena bukan orang dewasa saja yang mempunyai hak. Anak-anak juga mempunyai hak, dan kami berusaha memenuhinya. Hak-hak anak ini diakui dalam Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 1989. Menurut konvensi tersebut, semua anak, tanpa membedakan ras, suku bangsa, agama, jenis kelamin, asal-usul keturunan maupun bahasa memiliki 4 hak dasar yaitu:
1. Hak Atas Kelangsungan Hidup
Termasuk di dalamnya adalah hak atas tingkat kehidupan yang layak, dan pelayanan kesehatan. Artinya anak-anak berhak mendapatkan gizi yang baik, tempat tinggal yang layak dan perwatan kesehatan yang baik bila ia jatuh sakit.
2. Hak Untuk Berkembang
Termasuk di dalamnya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan, informasi, waktu luang, berkreasi seni dan budaya, juga hak asasi untuk anak-anak cacat, dimana mereka berhak mendapatkan perlakuan dan pendidikan khusus.
3. Hak Partisipasi
Termasuk di dalamnya adalah hak kebebasan menyatakan pendapat, berserikat dan berkumpul serta ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya. Jadi, seharusnya orang-orang dewasa khususnya orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada anak karena bisa jadi pemaksaan kehendak dapat mengakibatkan beban psikologis terhadap diri anak.
4. Hak Perlindungan
Termasuk di dalamnya adalah perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, perlakuan kejam dan sewenang-wenang dalam proses peradilan pidana maupun dalam hal lainnya. Contoh eksploitasi yang paling sering kita lihat adalah mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

Dalam kesemwrutan era ini, saat salah sudah dapat dibenarkan dan benar dapat disalahkan, kami masih mengharap kejelasan, yang salah tetap menjadi salah dan benar tetap menjadi benar, walau harapan itu tipis. Saat tindak laku sudah susah diwujudkan, kiranya doa menjadi tindak yang paling masih bisa diwujudkan. Sembari berdoa dan memberi hak dan pendidikan yang adil bagi anak-anak kami semoga upaya kami ini merupakan sebuah upaya yang benar.

Jadi panggil anak kami Siraj saja, Cahaya dunia yang sedang gelap.
Semoga.

baca selanjutnya..

PANGGIL AKU MATARI SAJA


FATIMA MATARI CERAH
Semoga seperti matahari, yang menyinari bumi..

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Pagi menjelang siang, saat semua orang telah melakoni rutinitas kehidupan, kurang lebih pukul 10.40 seorok mungil dengan berat 3,5 kg dan tinggi 49 cm, dengan proses yang tidak bertele-tele hadir dalam pandangan kami. Hari Rabu, 3 Mei 2006 di saat matahari cerah dan hangat itu kami dikarunia seorang bayi perempuan.

Pada awalnya kami hanya ingin sekedar memberi sebuah nama, tak lebih dan tak kurang: sebuah nama yang pas, enak didengar, dan beda dengan yang lain agar mudah diiingat. Bukankah baik dan buruknya seseorang tidak bergantung pada nama yang disandangnya saja, namun juga tergantung pada apa yang diciptakan, dirasakan dan dikarsakan si pemilik nama. Dan bukankah tubuh manusia dimuliakan oleh jiwanya, bukan penampilan permukaannya (bukan karena hidungnya, bukan karena rambutnya, bukan karena kulitnya, dll): Cantik atau tampannya bukan ditentukan oleh bentuk fisik dan pakainnya. Jika kecantikan/ketampanan ditentukan oleh bentuk muka, warna kulit, telinga, jenis dan hidung, maka di manakah bedanya antara manusia dengan lukisan?

Saya tidak begitu tahu mengapa Iwan Fals menulis lagu yang sangat pas untuk menggambarkan tentang melakoni hidup. Judulnya Seperti Matahari, dalam album Suara Hati (2002/2003?). Sejak pertama mendengar lagu itu, yang sebenarnya musiknya kurang enak didengar, saya terinspirasi jika dikarunia anak lagi akan menamainya seperti matahari. Saat itu kami baru saja mendapatkan momongan yang pertama, M. Azka Sirajulakbar (cahaya besar yang suci). Tetapi, jika nama seorang seperti matahari maka kedengarannya sangat lucu. Setan pun mungkin akan tertawa.

Di sebuah acara yang saya ikuti akhir Maret 2006, saya beruntung bertemu dengan Roger Tol (pakar bahasa dari KITLV). Saya berdiskusi lama dengan dia, termasuk berbincang tentang karya-karya Pramoedya Ananta Toer (sastrawan yang dikerdilkan oleh pemerintah Orde Baru karena karya-karyanya, meninggal 30 April 2006). Salah satu perbincangan kami, pengunaan istilah matari untuk menuliskan matahari dalam karya-karya Pram (Rumah Kaca, Bumi Manusia, dll). Saya termasuk yang setuju dengan karya-karya Pram, dan untuk menghargainya, kata matari saya pakai untuk menamai anak kami. Yang kayaknya, lebih pas dari kata seperti matahari. Setan tak mungkin akan tertawa.

Menjadi pencerah kegelapan (kebodohan, kemiskinan, penjajahan, penindasan) dunia di atas bumi ini adalah tujuan mulia hidup kami, dan semoga anak-anak kami menjadi bagian besar dalam mewujudkan dunia yang cerah, dengan cipta, karya dan karsanya.

Semoga

Seperti matahari
Iwan Fals

Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakar budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia, derita didapat
Karena ingin, sumber derita
Harta dunia, jadi penggoda
Membuat miskin, jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang-orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari, yang menyinari bumi,
Yang menyinari bumi

Ingin bahagia, derita didapat
Karena ingin, sumber derita
Harta dunia, jadi penggoda
Membuat miskin, jiwa kita
Keinginan adalah sumber penderitaan

baca selanjutnya..

Kamis, 13 Maret 2008


Bersama

Pengunjung ke

Gang Raflesia

Jl. Raflesia, Kawasan Kelapagading Blok S-T, Kota Serang Baru,
Banten, Indonesia 42122