Senin, 16 November 2009
Sabtu, 14 November 2009
TOURNAMEN BOLA VOLI PUTRI KELAPA GADING CUP I 2009
Dua akhir pekan bulan November 2009 di kawasan Kelapa Gading menjadi lebih ramai. Tepatnya di lokasi fasilitas umum, kerumunan orang yang ada di situ mendapatkan hiburan. Tontonan itu bernama TOURNAMEN BOLA VOLI PUTRI KELAPA GADING CUP I 2009.
Awalnya, hanya pertemuan biasa di lapangan sembari menyaksikan sebagian warga berolahraga badminton. Bak gayung bersambut, gagasan Pak RW untuk meramaikan kawasan di-iyakan seluruh peserta pertemuan yang memang sering kali terjadi. Dari pertemuan itulah diselenggarakan rapat-rapat tentatif: membuat proposal, membuat surat-surat, dll. Pertemuan antarwarga selama hampir sebulan ini tak jarang disertai kerjbahati mempersiapkan sarana dan prasarana perlombaan.
7 November 2009 pertandingan pertama digelar, dan tanpa seremoni pembukaan. Namun demikian, tidak menghilangkan niatan untuk bersilaturahmi dan menjunjung sportivitas dalam melaksanakan perlombaan yang pertama di gelar ini di kawasan yang tidak pernah lagi mendapat perhatian khusus dari pihak developer ini.
Ini dia peraturannya.
PERATURAN PERTANDINGAN
KELAPA GADING CUP I
November – Desember 2009
Peraturan pertandingan:
Secara umum pertandingan yang digelar dalam turnamen ini mengikuti aturan dari PBVSI.
Peraturan Tambahan (Turnamen Kelapa Gading Cup I)
1. Kaos tim harus seragam bernomer punggung dan dada;
2. Pemain harus mengenakan sepatu olahraga dan berkaoskaki;
3. Pemain dalam satu tim maksimal berjumlah 12 orang (termasuk 1 libero);
4. WO(Walkout)
Tim dinyatakan WO apabila terlamabat 15 menit dari waktu yang telah ditetapkan dalam peraturan.
Jumlah pemain dalam satu tidak kurang dari 6 orang pemain
menolak bertanding, apabila wasit dan panitia telah menyatakan untuk melaksanakan pertandingan dalam keadaan memungkinkan.
5. Tim harus datang 15 menit sebelum pertandingan dimulai (jadwal yang telah ditetapkan Panitia);
6. Tim yang dipanggil sebanyak tiga kali tidak hadir dalam waktu 15 menit maka dianggap gugur;
7. Pemain yang diperkenankan main dari babak penyisihan sampai babak final hanya yang sudah terdaftar di panitia;
8. Pemain hanya diperkenankan bermain dalam satu tim. Apabila diketahui mengikuti lebih dari satu tim, maka tim kedua yang dibela dinyatakan gugur;
9. Permainan untuk babak penyisihan dua kemenangan (two winning sets);
10. Permainan untuk babak semi-final dan final tiga kali kemenangan (three winning sets);
11. Yang diperkenankan memasuki lapangan selama pertandingan adalah pemain dan official (3 orang);
12. Keputusan wasit adalah mutlak;
13. Tim dan Supporter dilarang keras menyuarakan hal-hal yang menyinggung SARA selama pertandingan. Jika ini terjadi, dan jika sebanyak tiga kali peringatan tidak diindahkan, maka Tim tersebut dinyatakan kalah dalam pertandingan;
14. Protes selama pertandingan berlangsung, diajukan oleh captain tim kepada wasit;
15. Protes terhadap hasil pertandingan, diajukan oleh manajer tim secara tertulis kepada panitia dengan menyertakan uang protes sebesar Rp 100.000, - ; dengan bukti yang nyatadan realistis.
16. Protes yang berlebihan (Provokasi, ancaman, kekerasan) terhadap wasit/panitia, maka Tim akan dikenakan denda dan diserahkan kepada pihak yang berwajib;
17. Pertandingan dilaksanakan Hari Sabtu mulai Jam 14.00 WIB – selesai, sedangkan Hari Minggu Jam 08.00 WIB – selesai;
Demikian Peraturan Pertandingan ini disusun oleh Panitia Turnamen Kelapa Gading Cup I Tahun 2009.
Serang, 8 November 2009
Panitia
Selasa, 23 Juni 2009
Seragam Terakhir Anak Kami (Siraj)
Ada rasa haru saat menghantarnya ke sekolah, tempat yang diidealkan menjadi tempat belajarnya. Sudah lama (sejak umur 4 tahun) kami menawarinya untuk bersekolah, tapi ia sepertinya tidak berminat. Walau tidak mau bersekolah di usia dini, tapi ia bersemangat untuk belajar, bertanya banyak hal yang ia tak pahami. Seingat kami, usia tiga tahun ia sudah dapat mengurutkan angka (dalam bahas Indonesia maupun bahasa Inggris).
Entah dapat semangat dari siapa, diusianya yang kelima ia menginginkan masuk Taman Kanak-Kanak. Kami pun memenuhi haknya berpendidikan. TK Pembina Serang menjadi pilihannya, setelah beberapa sekolah kami datangi beberapa sekolah. Kami pun menyetujui pilihannya: ruang kelas luas, taman bermainnya variatif, sekolahnya terlihat aman dan nyaman. Yang agak merepotkan adalah letaknya agak jauh, sekitar 10 menit dengan motor dari rumah. Mengantarnya bersekolah menjadi bagian hidup keluarga kami.
Untuk ke sekolah, tak jarang kami harus membujuknya berkali-kali. Kalau tak bisa dirayu, ia pun libur. Sehingga, datang terlambat bukan suatu dosa baginya. Di sekolah, walau sering tidak masuk ia dapat mengikuti pembelajaran yang disodorkan sekolah. Bahkan, ia sering menjadi pertama dari kompetisi harian guru. Saat pulang, guru kelas yang terdiri dari dua orang sering membuat kompetisi, dan pemenangnya mendapat giliran awal ke luar kelas. Siraj sering keluar kelas pertama dan dengan kebingungannya ia melongok mencari siapa penjemputnya.
Rabu, 17 Juni 2009. Ia yang biasa malas-malasan bangun dan harus bergegas ke sekolah menjalani paginya seperti biasanya. Saat kami mengingatkannya bahwa waktu sudah pukul 07.00 pagi, ia pun menjawab jam-nya sudah dipercepat. Jadinya, seperti biasa, jam 07.30 perisapan sekolahnya bener-bener beres. Hari Rabu-Kamis, seragamnya batik bercorak logo sekolahnya dengan celana putih, yang sudah tidak putih lagi. Saat kami katakan, hari ini merupakan hari terakhirnya bersekolah di TK, ia seperti menahan waktu dan ingin kembali lagi. Seolah tidak percaya bahwa tahapannya sudah harus lebih tinggi, ia menjawab sekenanya lontaran kami.
Sehari sebelumnya, kami menghantarnya acara perpisahan dan pelepasan di Taman Wulandira, Serang. Dalam acara yang dikemas rapi tersebut ia mendapat kesempatan membacakan pidato perpisahan, mewakili murid-murid yang dilepas. Rupanya, di kelasnya ia paling bisa membaca. Padahal, kami tidak pernah secara serius mengajarinya membaca. Hanya dalam kesempatan tertentu saja, kalau ia bertanya tentang huruf dan susunannya kami menjawabnya. Seingat kami, ia sudah dapat memecahkan susunan huruf menjadi sebuah kata pada medio tahun 2008. Kini, ia sudah dapat membaca teks-teks terjemahan dalam film atjemui. Kami tidak terlalu menekankan agar dia dapat membaca dulu dalam sekolah TKnya bukan karena kami ingin dia terbatas pengetahuan dan kemampuannya, seperti pemerintah Kolonial Belanda hanya memberikan pelajaran membaca, menulis dan menhitung pada kakek dan nenek anak-anak kami. Tapi kami ingin supaya ia tidak terlalu berat dalam menerima pelajaran. Kami ingat komentar Baharudin, pelaku pendidikan alternatif QT, Salatiga, yang mengatakan bahawa anak se-usia TK tidak perlu belajar membaca dan menulis. Ibaratnya, anak kami mengalami kecelakaan pengetahuan. Dan herannya kecelakaannya yang anak kami alami telah membawanya diberi penghargaan dalam acara tanggal 16 Juni 2009 tersebut. Ia diberi penghargaan juara I menyusun huruf.
NASKAH PIDATO SIRAJ
Bismillah irrohman irrohim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh
Yang terhormat Ibu Kepala TK Negeri Pembina Kota Serang.
Yang terhormat Ibu-ibu guru TK Negeri Pembina Kota Serang.
Yang terhormat Ibu-ibu, Bapak-bapak orangtua murid dan
teman-teman yang saya sayangi.
Alhamdulillah, Kami panjatkan puji dan syukur kepada
Allah Yang Maha Kuasa karena pada pagi ini saya,
Muhammad Azka Sirajulakbar (Siraj), dapat berkumpul
bersama-sama dengan Ibu-ibu, Bapak-bapak dan
teman-teman dalam kondisi sehat.
Pada kesempatan ini, saya mewakili teman-teman ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Ibu-ibu guru semua atas segala bantuan dan bimbingan
selama Kami belajar di TK Pembina Kota Serang.
Dan selama belajar di sekolah yang sangat Kami cintai ini tentunya, saya dan teman-teman telah banyak melakukan tindakan dan kesalahan yang membuat Ibu-ibu lebih repot dan
bahkan tidak berkenan. Untuk itu, saya dan teman-teman dalam kesempatan yang baik ini memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Belajar di sekolah ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan akan Kami ingat sepanjang masa.
Terima kasih kepada semuanya.
Demikian yang dapat Kami sampaikan.
Maaf atas segala kesalahan.
Sekian dan terimakasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh
Serang, 16 Juni 2009
Siraj dan murid TK Pembina Kota Serang 2008/2009
Seragam TK kini tidak dikenakan anak pertama kami lagi. Mungkin seragam itu bisa diwariskan kepada adik-adiknya. Seragam putih merah akan dia kenakan di bulan depan.
Semoga ia bisa bersekolah dengan baik, dan sekolah barunya dapat menjadi tempat indah buat bermain dan belajarnya.
Rabu, 08 April 2009
Selamat berlibur pada 9 April 2009
Tahun 2009 banyak dinanti masyarakat Indonesia. Tepatnya 9 April saat Pemilu legislatif, dan bulan Juli saat pemilihan presiden. Pemilu yang sudah menjadi agenda lima tahunan bangsa Indonesia ini tentu mempunyai makna, dan memungkinkan pemaknaannya bisa beragam. Pemilu ketiga pasca Orde Baru ini dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai momen perubahan dari Era Orde Baru, yang penuh dengan ketidakadilan dan KKN, menuju era berkeadilan dan anti KKN. Pun dengan masyarakat Provinsi Banten, yang mengharap Pemilu 2009 menjadi momen awal perbaikan hidupnya. Tapi, kami tidak punya makna yang besar terhadap pemilu ini. Pemilu 2009 bagi kami hanya hari libur saja, tak lebih dan tak kurang.
Kami sudah melewati sekian kali Pemilu, baik dalam Era Orde Baru maupun era Reformasi, namun kami masih merasakan tidak akan ada perubahan yang berarti bagi kami. Jadinya, kami tetap saja sibuk dengan keseharian kami, sementara orang-orang yang lain yang memaknai Pemilu akan membawa perubahan bagi dirinya biarlah sibuk dengan Pemilu, termasuk hari ini.
Pernah terpikir oleh kami akan mencoblos, yang sudah diganti mencontreng, pada Pemilu kali ini. Tentunya dengan syarat, agenda mereka harus bgertemu/berjodoh dengan agenda keseharian kami. Paling tidak ada tiga hal yang mungkin membuat kami akan mencoblos/mencontreng. Pertama, adanya/kami temukannya calon yang benar-benar pro masyarakat biasa (baik dari segi sosial-budaya, sosial-ekonomi, dan sosial-politik yang berbeda-beda). Kedua, bertemunya kami dengan calon yang sedang menyosialisasikan dirinya dan program-programnya, dalam keseharian kami, baik di rumah maupun di tempat kami berproduksi (tempat kerja). Di mana pada saat pertemuan itu ada sebuah diskusi yang bersifat berbagi gagasan. Ketiga, terpenuhinya janji-janji politik calon. Sejauh ini, saya tidak pernah menemui para calon legislatif atau pemimpin yang lain memenuhi janji politiknya. Sebagai tanda bukti mereka tidak akan pernah memenuhi janji adalah tidak dibersihkan jalan atau tempat-tempat umum dari alat-alat kampanye mereka.
Setahu kami, seharusnya para pemasanglah yang mencopoti kembali, bukan petugas negara (KPU, Satpol PP, dll). Beberapa kali saya melihat orang yang tidak memasang alat kampanye sedang mencopoti alat kampanye tersebut. Pemandangan yang saya saksikan tersebut seperti membersihkan sampah kota, baik baliho, poster, pamflet, spanduk yang bergambar calon maupun tulisan janji-janji. Hingga, rasa-rasanya calon dan janji-janjinya tak jauh beda dengan sampah kota.

Sampai hari tenang kemarin, 8 April (hari jadi kami akan berkomitmen membangun sebuah rumah), kami tidak menemui tiga hal tersebut. Kalau toh ketemu dengan satu hal saja, niatan mencontreng pada Pemilu 2009 akan kami lakukan. Entah belum jodoh dengan perubahan yang benar-benar membawa kebaikan, atau entah karena apa tiga hal itu tidak kami ketemui. Sehingga, pada Pemilu 2009 ini kami berhasil memperpanjang rekor tidak memilih/mencoblos/mencotreng pada proses yang disepakati banyak kalangan sebagai tahapan yang terbaik untuk menentukan kepemimpinan ini.
Senin, 30 Maret 2009
Satu Tahun Si BONANG

Hari ini salah satu anak kami genap berusia satu tahun. Ia yang satu tahun lalu masih ada di dalam perut, kini dapat merasakan dan menikmati dunia yang penuh dengan warna. Termasuk dalam beberapa hari ini, badannya terasa panas yang tertular oleh dua kakaknya—seperti akan terserang pilek dan batuk. Panas dinginnya tentu bukan karena meradang menyaksikan cuci-tangannya para penguasa terhadap tragedi Situ Gintung, Tangerang, Jumat (27/3/09) dinihari itu.
Kami termasuk yang mempercayai bahwa anak terlahir dalam kondisi polos, tidak baik dan tidak pula jahat, namun ia membawa kecenderungan untuk baik dan jahat. Bagi kami, kejahatan merupakan ekspresi dari kebencian, ego yang terkekang. Sejauh pengalaman kami hidup bersama anak-anak, mereka sangat egois. Hingga, dengan mengelola ego mereka kami bekerjasama. Ketika ego mereka kami pelihara, yang muncul adalah kebaikan mereka, sebaliknya jika ego mereka kami kekang, yang muncul adalah kebencian/kejahatan mereka. Dari sini kami menyimpulkan, anak-anak yang berbuat jahat demi mencari kebahagian, dengan membalas dendam kepada masyarakat yang tidak mau mengapresiasikan egonya. Dan, nampaknya ini juga berlaku bagi orang dewasa.
Namun demikian, kami terkadang juga tidak bisa mentolerir ego mereka, saat kami juga dihadapkan pada kepentingan kami sendiri. Dan yang sering muncul adalah rasa ingin marah pada kondisi seperti ini. Untung saja—sejauh ini—kami tidak pernah menyalahkan bahkan mengeluarkan emosi kami kepada mereka dalam bentuk ekspresi fisik.
Hal yang lumrah dalam setiap peringatan ulang tahun adalah berucap syukur dan mencipta keinginan. Dua hal itu tentu belum dapat dituturkan oleh si Bonang, anak kami yang di akte kelahirannya tertulis Omar Zonnig Tristan. Bonang, entah siapa yang pertama menjulukinya, terasa sangat pas buat dia saat yang memanggil dan yang dipanggil berkomunikasi. Apalagi, yang memanggil dua kakaknya, Siraj (tujuh tahun pada awal Desember nanti) dan Matari (3 tahun kurang dua bulan). Dalam menyikapi keinginan anak kami sangat waspada, tidak semua harus difasilitasi. Dengan kesadaran bahwa keinginan akan dapat mendatangkan kebaikan/kejahatan, kami harus memilih dan memilah untuk kebaikan perkembangan dan pertumbuhannya.
Keinginan anak yang tidak tersalurkan akan berakibat buruk baik dia dan masyarakatnya. Bukankah orang pada dasarnya baik, ingin bertindak baik, ingin menyayangi dan disayangi pula. Sehigga, kebencian dan pemberontakan anak merupakan kasih sayang dan keinginan yang terhalang.
Maka setiap, 31 Maret si Bonang bertambah usia dan menyusut hidupnya ini akan kami waspadai dengan mendengar keinginannya. Dalam rumah yang tidak mengharamkan kebebasan ini kami akan menjadikannya sebagai tempat awal dan tempat akhir menyandarkan dan menggapai cita, serta mungkin keinginan mereka. Dalam rumah yang kami bangun dengan rasa kasih sayang ini, kami ingin menjadikannya sebagai tempat untuk belajar dan memahami bahwa kebebasan berbeda dengan pengekangan.
Selamat nak, jalanmu masih panjang, hadapilah aral-melintang yang terbentang malang-megung, dengan cinta, bebas, dan sabar.
Rabu, 11 Februari 2009
Sebulan tidak bersama


Aku di Lombok, berempat di Serang
Awal tahun 2009, kami berlima yang biasa menjalani kebersamaan harus menghadapi perpisahan selama sebulan. Pagi atau malam hari yang biasanya TV dan atau komputer menjadi rebutan, selama sebulan tidak lagi. Aku di Lombok Utara melakukan penelitian sebuah komunitas, dan istriku serta tiga anakku di Serang.
Pagi hari pertama di Pulau Lombok datang tanpa memberiku salam yang khas. Suara televisi yang tidak kumatikan semalam masih menyala kala aku terbangun. Seperti pagi-pagi biasanya kutemui. Bagai ciptaan yang terprogram, aku pun melaksanakan rutinitas seperti pagi-pagi pada umumnya. Aku sadar benar berada di Mataram setelah melihat kain tenun selimut kasur ciri khas Lombok berwarna biru dan mendengar obrolan orang-orang di luar kamar yang berbahasa Sasak.
Aku sangat menikmati penelitian ini. Pernah suatu ketika Mas Sugeng (teman penelitian) menanyakan, apakah aku tidak bosan atau kangen dengan rumahku. Pertanyaannya ini mengingatkanku akan bagaimana strategi merasionalisasi rasa kangen dan kejenuhan. Dalam hal ini rasa kangen akan rumah memang selalu muncul, apalagi bayangan anak-anak, cahaya pilihan hidupku. Untuk menghadapi rasa kangen dan jenuh, aku mengaturnya dengan tiga hari kerja penuh dan satu hari untuk rileksasi. Rileksasi di desa ini biasa aku jalani dengan nongkrong di warung pada pagi menjelang siang, atau bermain sepak bola pada sore hari, atau bermain kartu remi pada malam hari. Bosan, sejauh ini, belum menghinggapi rasaku. Betapa tidak, hampir setiap saat rumah Mas Sugeng selalu kedatangan tamu, dan tamunya (baik pemuda setempat maupun teman sejawatnya) selalu memiliki cerita yang informatif. Bahkan, dalam membantu proses penelitianku, pada dua minggu pertama ini, seorang tetangga Mas Sugeng membawakan lagu-lagu pop sasak beserta alat pemutarnya.
Tinggal sebulan di Lombok Utara, aku berusaha menjadi bagian dari warga desa. Tiga hari tinggal di Desa Bentek, aku menyaksikan langsung datangnya bencana banjir bandang yang melanda desa yang damai ini. Sabtu pagi, 10 Januari 2009, keluarbiasaan terjadi di desa ini: ruas jalan desa dari kampung Karangkates menuju kampung Selelos, yang melewati dusun Karang Lendang, Todo, dan Bangket terputus di Todo (tepatnya di kampung Genting). Praktis, Dusun Todo, Bangket, dan Selelos terisoler dari transportasi kota. Selain terisoler dari jalur transportasi, listrik dan air PAM pun demikian. Selama dua hari warga kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kejadian luar biasa kedua adalah terkenanya banjir bandang di Dusun Bangket dan Buani. Di Bangket, selatan Dusun Todo, puluhan warga kehilangan rumah tinggal yang terendam oleh pasir, lumpur, dan potongan-potongan kayu. Tidak ada korban jiwa, namun harta benda rumah-rumah yang ada di muka dusun tersebut hanyut dalam derasnya air bah. Di Buani, timur Dusun Todo, tempat tinggal masyarakat Buda, akibat banjir bandang sebanyak lima rumah ikut hanyut. Pagar vihara yang diresmikan tahun 2005 oleh bupati Lombok Barat rubuh. Kejadian luar biasa ini mendapat respons dari media, baik cetak maupun elektronik. Sejumlah TV swasta nasional meliput kejadian ini, pun media cetak. Adanya kejadian ini membuatku harus memiliki alternatif kegiatan, bahkan peran. Aku menargetkan paling tidak tiga hari, jika tidak ada bencana susulan, mengurangi waktu kegiatan penelitian. Kejadian luar biasa ini menjadikanku relawan bencana dan narasumber menjadi korban bencana. Semampuku, aku ikut bergotong-royong dengan warga. Bagiku ini juga kesempatan untuk bersosialisasi. Di ruas jalan yang terputus, aku ikut membuat jembatan di sungai yang muncul akibat banjir pada Sabtu pagi dini hari itu. Warga menyebut sungai yang muncul pada tanggal 10 Januari 2009 sebagai sungai baru. Namun menurut keterangan orang-orang tua di Dusun Todo, sungai baru bukanlah baru. Sungai yang luasnya hampir 10 meter tersebut memang sudah ada pada tahun 1950-an, dan dihambat pada tahun 1960-an.
Selain terlibat dalam menghadapi bencana yang melanda desa ini untuk kesekian kalinya ini, aku juga terlibat dalam kegiatan warga lainnya. Misalnya kegiatan hiburan warga, yakni bermain sepakbola dan bermain kartu di beruga warga desa. Kedua kegiatan ini merupakan bahasa universal, bukankah setiap orang ingin menghibur diri. Dari kegiatan-kegiatan yang rileks ini tak jarang aku mendapatkan data-data yang penting.
Ada yang berubah selama sebulan. Selain rumahku yang berubah warna, ketiga anakku pun mengalami perkembangan yang mengembirakan. Ketiganya terlihat sehat dan segar. Siraj, anak pertama kami, rambutnya sudah mulai terlihat panjang. Ia di sekolah masih menjadi anak baik, yang disukai guru dan teman-temannya. Sering ia dijadikan contoh yang baik untuk teman sekelasnya. Misalnya, saat akan keluar dari kelas untuk pulang. Guru kelasnya selalu membuat kompetisi murid terbaik diantara murid-murid untuk memutuskan siapa yang keluar lebih dahulu. Dan Siraj selalu keluar lebih dahulu dibandingkan temannya yang lain. Selain menjadi anak yang baik di sekolah, ia pun sekarang sudah dapat membaca susunan huruf dengan lancar. Padahal kami tidak pernah dengan khusus mengajarinya, pun (mungkin) di sekolah. Sehingga, majalah Tiko yang dibagikan tiap bulan dari sekolah dalam beberapa hari sudah habis dibaca.
Matari, anak kedua kami yang bulan Mei akan berusia tiga tahun tumbuh dan berkembang dengan sehat. Ia sudah dapat membantu pekerjaan-pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan oleh dua pengasuhnya. Tentunya hasil kerjaannya jauh dari sempurna, karena hanya main-main. Ia bisa menyapu. Ia bisa memasak. Ia bisa menyetrika, dll. Tak jarang, ia menirukan semua aktivitas baik yang dilakukan uminya (seperti membaca, mengetik, menulis: menurutnya ia bekerja seperti umi). Dalam sosialisasi dengan teman dan tetangga kami, ia mengalami kemajuan. Saat ditanya, ia menjawab dengan baik, bahkan sampai terjadi pembicaraan. Ia sudah mau bermain di rumah teman-temannya tanpa ditemani: Leksa, Esa, Fathan, dan Surya.
Zonnig, yang masih berusia sembilan bulan terlihat lebih gemuk dan sehat. Hidungnya tidak ada ingus. Pertama melihatku, ia tidak mau. Namun saat disebut si gondrong, ia langsung minta gendong. Seolah ia akan menunjukkan apa yang telah bisa dilakukannya, ia langsung minta turun. Ia minta dititah, membantu berjalan. Kegiatan ini sangat disukainya sekarang-sekarang ini. Tak jarang, kami kadang kewalahan mengikuti kesukaannya itu. Dalam berjalan di depan rumah, ia paling suka melihat selokan, baik di sisi kanan maupun kiri Gang Raflesia. Apalagi saat sebuah pipa pembuangan air limbah rumah tangga ini mengalir. Ia dengan seksama melihat sampai tetes air terakhir.
Sebulan penuh tidak melihat langsung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kami merupakan kerugian besar, namun aku sendiri juga masih perlu tumbuh dan kembang dalam melakoni hidup bersama ini.
Senin, 22 Desember 2008
Hari ibu, saya hari libur


Selamat hari ibu, embah dan ummiku Kami mencintaimu, apa pun.
(siraj, matari, dan zonnig).
Senin pagi seusai subuh, seperti biasanya, siaran berita pagi di tv sudah menjadi sarapan kami. Pagi ini, kami menontonya bersamaan, berlima. Kami tak menyadari kalau hari ini adalah hari istemewa buat salah satu perempuan isi rumah kami.
Di ruang kerjaku, seusai menyalakan komputer baru kusadar, ternyata hari ini adalah hari istemawa buat seorang ibu. Surat yang masuk ke inbox emailku begitu banyak yang memberikan selamat akan hari istimewa ini. Syukurlah, masih banyak orang yang tidak melupakan masa lalunya, dan melupakan arti penting seorang ibu.
Masa lalu ditetapkannya hari ini sebagai hari ibu tak lepas dari Soempah Pemodea 1928. Kaum perempuan Indonesia sebagai pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia merasa terpanggil, dan pada tanggal 22 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Salah hasilnya, perempuan tidak bisa berjuang sendiri-sendiri, perlu wadah: Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI), berubah nama pada tahun 1929 jadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII).
Tujuh tahun berjalan, 1935, organisasi ini menunjukan kiprahnya secara luas, dan terus berkembang hingga menyelenggarakan kongres ke III di Bandung. Hasil penting dari kongres ini adalah ditetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Babakan Indonesia Merdeka dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959 mengukuhkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu.
Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda akan makna Hari Ibu sebagai “hari kebangkitan serta persatuan dan kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebnagkitan perjuangan bangsa”.
Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tersebut yang tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya. Semboyan lambang Hari Ibu “Merdeka Melaksanakan Dharma” mengandung makna bahwa tercapainya persamaan kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki merupakan kemitraan sejajar yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bagi bangsa Indonesia.
Hari Ibu memang tidak hanya diperingati di Indonesia saja. Namun, kita patut bangga karena Hari Ibu Indonesia ruang lingkupnya lebih luas (tidak sekedar domestik, namun juga kenegaraan). Kebanyakan di barat (dengan mother’s day) hanya mencakup domestik saja.
Sebagai seorang anak (masih berkesempatan hidup dengan emak) dan seorang bapak, saya merasa bangga dengan peran dan fungsi mereka (ibu dan istri). Mereka telah menjadi manusia yang juga berjuang untuk dirinya, keluarganya, dan negara, tentunya. Oleh anak saya (pertama), yang belum tahu arti penting hari ini, ia telah memberikan hadiah besar buat ibunya. Anakku merasa girang, dengan menerima raport (TK). Hasil evaluasi yang diberikan guru kelasnya cukup membuat ibunya tersenyum bangga. Dan yang membuatnya semakin girang adalah di hari ini ia bisa menemani ibunya, karena ia libur. Libur baginya sangat menyenangkan, apalagi jika seisi rumah ada. Kami biasa terbuka dalam pembicaraan, berdiskusi, belajar dalam posisi yang setara (anak-orangtua, suami-istri), dan membuat hal-hal indah. Hal-hal kecil inilah yang bisa kami perbuat, untuk mengisi hari-hari bersejarah negeri ini.
Bersama
Pengunjung ke
Gang Raflesia
Banten, Indonesia 42122