Rabu, 11 Februari 2009

Sebulan tidak bersama




Aku di Lombok, berempat di Serang



Awal tahun 2009, kami berlima yang biasa menjalani kebersamaan harus menghadapi perpisahan selama sebulan. Pagi atau malam hari yang biasanya TV dan atau komputer menjadi rebutan, selama sebulan tidak lagi. Aku di Lombok Utara melakukan penelitian sebuah komunitas, dan istriku serta tiga anakku di Serang.

Pagi hari pertama di Pulau Lombok datang tanpa memberiku salam yang khas. Suara televisi yang tidak kumatikan semalam masih menyala kala aku terbangun. Seperti pagi-pagi biasanya kutemui. Bagai ciptaan yang terprogram, aku pun melaksanakan rutinitas seperti pagi-pagi pada umumnya. Aku sadar benar berada di Mataram setelah melihat kain tenun selimut kasur ciri khas Lombok berwarna biru dan mendengar obrolan orang-orang di luar kamar yang berbahasa Sasak.

Aku sangat menikmati penelitian ini. Pernah suatu ketika Mas Sugeng (teman penelitian) menanyakan, apakah aku tidak bosan atau kangen dengan rumahku. Pertanyaannya ini mengingatkanku akan bagaimana strategi merasionalisasi rasa kangen dan kejenuhan. Dalam hal ini rasa kangen akan rumah memang selalu muncul, apalagi bayangan anak-anak, cahaya pilihan hidupku. Untuk menghadapi rasa kangen dan jenuh, aku mengaturnya dengan tiga hari kerja penuh dan satu hari untuk rileksasi. Rileksasi di desa ini biasa aku jalani dengan nongkrong di warung pada pagi menjelang siang, atau bermain sepak bola pada sore hari, atau bermain kartu remi pada malam hari. Bosan, sejauh ini, belum menghinggapi rasaku. Betapa tidak, hampir setiap saat rumah Mas Sugeng selalu kedatangan tamu, dan tamunya (baik pemuda setempat maupun teman sejawatnya) selalu memiliki cerita yang informatif. Bahkan, dalam membantu proses penelitianku, pada dua minggu pertama ini, seorang tetangga Mas Sugeng membawakan lagu-lagu pop sasak beserta alat pemutarnya.

Tinggal sebulan di Lombok Utara, aku berusaha menjadi bagian dari warga desa. Tiga hari tinggal di Desa Bentek, aku menyaksikan langsung datangnya bencana banjir bandang yang melanda desa yang damai ini. Sabtu pagi, 10 Januari 2009, keluarbiasaan terjadi di desa ini: ruas jalan desa dari kampung Karangkates menuju kampung Selelos, yang melewati dusun Karang Lendang, Todo, dan Bangket terputus di Todo (tepatnya di kampung Genting). Praktis, Dusun Todo, Bangket, dan Selelos terisoler dari transportasi kota. Selain terisoler dari jalur transportasi, listrik dan air PAM pun demikian. Selama dua hari warga kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kejadian luar biasa kedua adalah terkenanya banjir bandang di Dusun Bangket dan Buani. Di Bangket, selatan Dusun Todo, puluhan warga kehilangan rumah tinggal yang terendam oleh pasir, lumpur, dan potongan-potongan kayu. Tidak ada korban jiwa, namun harta benda rumah-rumah yang ada di muka dusun tersebut hanyut dalam derasnya air bah. Di Buani, timur Dusun Todo, tempat tinggal masyarakat Buda, akibat banjir bandang sebanyak lima rumah ikut hanyut. Pagar vihara yang diresmikan tahun 2005 oleh bupati Lombok Barat rubuh. Kejadian luar biasa ini mendapat respons dari media, baik cetak maupun elektronik. Sejumlah TV swasta nasional meliput kejadian ini, pun media cetak. Adanya kejadian ini membuatku harus memiliki alternatif kegiatan, bahkan peran. Aku menargetkan paling tidak tiga hari, jika tidak ada bencana susulan, mengurangi waktu kegiatan penelitian. Kejadian luar biasa ini menjadikanku relawan bencana dan narasumber menjadi korban bencana. Semampuku, aku ikut bergotong-royong dengan warga. Bagiku ini juga kesempatan untuk bersosialisasi. Di ruas jalan yang terputus, aku ikut membuat jembatan di sungai yang muncul akibat banjir pada Sabtu pagi dini hari itu. Warga menyebut sungai yang muncul pada tanggal 10 Januari 2009 sebagai sungai baru. Namun menurut keterangan orang-orang tua di Dusun Todo, sungai baru bukanlah baru. Sungai yang luasnya hampir 10 meter tersebut memang sudah ada pada tahun 1950-an, dan dihambat pada tahun 1960-an.

Selain terlibat dalam menghadapi bencana yang melanda desa ini untuk kesekian kalinya ini, aku juga terlibat dalam kegiatan warga lainnya. Misalnya kegiatan hiburan warga, yakni bermain sepakbola dan bermain kartu di beruga warga desa. Kedua kegiatan ini merupakan bahasa universal, bukankah setiap orang ingin menghibur diri. Dari kegiatan-kegiatan yang rileks ini tak jarang aku mendapatkan data-data yang penting.

Ada yang berubah selama sebulan. Selain rumahku yang berubah warna, ketiga anakku pun mengalami perkembangan yang mengembirakan. Ketiganya terlihat sehat dan segar. Siraj, anak pertama kami, rambutnya sudah mulai terlihat panjang. Ia di sekolah masih menjadi anak baik, yang disukai guru dan teman-temannya. Sering ia dijadikan contoh yang baik untuk teman sekelasnya. Misalnya, saat akan keluar dari kelas untuk pulang. Guru kelasnya selalu membuat kompetisi murid terbaik diantara murid-murid untuk memutuskan siapa yang keluar lebih dahulu. Dan Siraj selalu keluar lebih dahulu dibandingkan temannya yang lain. Selain menjadi anak yang baik di sekolah, ia pun sekarang sudah dapat membaca susunan huruf dengan lancar. Padahal kami tidak pernah dengan khusus mengajarinya, pun (mungkin) di sekolah. Sehingga, majalah Tiko yang dibagikan tiap bulan dari sekolah dalam beberapa hari sudah habis dibaca.

Matari, anak kedua kami yang bulan Mei akan berusia tiga tahun tumbuh dan berkembang dengan sehat. Ia sudah dapat membantu pekerjaan-pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan oleh dua pengasuhnya. Tentunya hasil kerjaannya jauh dari sempurna, karena hanya main-main. Ia bisa menyapu. Ia bisa memasak. Ia bisa menyetrika, dll. Tak jarang, ia menirukan semua aktivitas baik yang dilakukan uminya (seperti membaca, mengetik, menulis: menurutnya ia bekerja seperti umi). Dalam sosialisasi dengan teman dan tetangga kami, ia mengalami kemajuan. Saat ditanya, ia menjawab dengan baik, bahkan sampai terjadi pembicaraan. Ia sudah mau bermain di rumah teman-temannya tanpa ditemani: Leksa, Esa, Fathan, dan Surya.

Zonnig, yang masih berusia sembilan bulan terlihat lebih gemuk dan sehat. Hidungnya tidak ada ingus. Pertama melihatku, ia tidak mau. Namun saat disebut si gondrong, ia langsung minta gendong. Seolah ia akan menunjukkan apa yang telah bisa dilakukannya, ia langsung minta turun. Ia minta dititah, membantu berjalan. Kegiatan ini sangat disukainya sekarang-sekarang ini. Tak jarang, kami kadang kewalahan mengikuti kesukaannya itu. Dalam berjalan di depan rumah, ia paling suka melihat selokan, baik di sisi kanan maupun kiri Gang Raflesia. Apalagi saat sebuah pipa pembuangan air limbah rumah tangga ini mengalir. Ia dengan seksama melihat sampai tetes air terakhir.

Sebulan penuh tidak melihat langsung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kami merupakan kerugian besar, namun aku sendiri juga masih perlu tumbuh dan kembang dalam melakoni hidup bersama ini.

baca selanjutnya..

Senin, 22 Desember 2008

Hari ibu, saya hari libur




Selamat hari ibu, embah dan ummiku Kami mencintaimu, apa pun.
(siraj, matari, dan zonnig).


Senin pagi seusai subuh, seperti biasanya, siaran berita pagi di tv sudah menjadi sarapan kami. Pagi ini, kami menontonya bersamaan, berlima. Kami tak menyadari kalau hari ini adalah hari istemewa buat salah satu perempuan isi rumah kami.

Di ruang kerjaku, seusai menyalakan komputer baru kusadar, ternyata hari ini adalah hari istemawa buat seorang ibu. Surat yang masuk ke inbox emailku begitu banyak yang memberikan selamat akan hari istimewa ini. Syukurlah, masih banyak orang yang tidak melupakan masa lalunya, dan melupakan arti penting seorang ibu.

Masa lalu ditetapkannya hari ini sebagai hari ibu tak lepas dari Soempah Pemodea 1928. Kaum perempuan Indonesia sebagai pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia merasa terpanggil, dan pada tanggal 22 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Salah hasilnya, perempuan tidak bisa berjuang sendiri-sendiri, perlu wadah: Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI), berubah nama pada tahun 1929 jadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII).

Tujuh tahun berjalan, 1935, organisasi ini menunjukan kiprahnya secara luas, dan terus berkembang hingga menyelenggarakan kongres ke III di Bandung. Hasil penting dari kongres ini adalah ditetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Babakan Indonesia Merdeka dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959 mengukuhkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu.

Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda akan makna Hari Ibu sebagai “hari kebangkitan serta persatuan dan kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebnagkitan perjuangan bangsa”.

Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tersebut yang tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya. Semboyan lambang Hari Ibu “Merdeka Melaksanakan Dharma” mengandung makna bahwa tercapainya persamaan kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki merupakan kemitraan sejajar yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bagi bangsa Indonesia.

Hari Ibu memang tidak hanya diperingati di Indonesia saja. Namun, kita patut bangga karena Hari Ibu Indonesia ruang lingkupnya lebih luas (tidak sekedar domestik, namun juga kenegaraan). Kebanyakan di barat (dengan mother’s day) hanya mencakup domestik saja.


Sebagai seorang anak (masih berkesempatan hidup dengan emak) dan seorang bapak, saya merasa bangga dengan peran dan fungsi mereka (ibu dan istri). Mereka telah menjadi manusia yang juga berjuang untuk dirinya, keluarganya, dan negara, tentunya. Oleh anak saya (pertama), yang belum tahu arti penting hari ini, ia telah memberikan hadiah besar buat ibunya. Anakku merasa girang, dengan menerima raport (TK). Hasil evaluasi yang diberikan guru kelasnya cukup membuat ibunya tersenyum bangga. Dan yang membuatnya semakin girang adalah di hari ini ia bisa menemani ibunya, karena ia libur. Libur baginya sangat menyenangkan, apalagi jika seisi rumah ada. Kami biasa terbuka dalam pembicaraan, berdiskusi, belajar dalam posisi yang setara (anak-orangtua, suami-istri), dan membuat hal-hal indah. Hal-hal kecil inilah yang bisa kami perbuat, untuk mengisi hari-hari bersejarah negeri ini.

baca selanjutnya..

Kamis, 07 Agustus 2008

Glodok Libas Permata Gading



Kesebelasan Glodok FC melibas Permata Gading 3-0 dalam laga turnamen Ciwaru Banjar Agung Cup I, Senin (31/3).

Ketiga gol itu tercipta di babak kedua, oleh striker mungil Rohman menit 36 dan 65, serta bomber berkepala plontos Herdi menit 46. Tim dari Kota Serang Baru (KSB) ini berhak maju ke babak 8 besar.

Glodok akan melawan pemenang antara Bantara, Curug melawan Persema, Magelaran yang akan bertanding sore nanti. Laga 8 besar akan dihelat Minggu (6/4). Sebaliknya, kekalahan itu, membuat episode Permata Gading di turnamen ini berakhir sudah.

Sejatinya, kualitas pemain Glodok dan Permata Gading seimbang. Masing-masing klub juga dihuni sejumlah pemain yang sudah tidak muda lagi. Fisik yang masih prima di babak pertama membuat pertandingan berjalan ketat. Kedua tim silih berganti menyerang. Namun, Permata Gading lebih mendominasi serangan. Menit 27, Fauzan mendapat peluang emas. Menerima umpan datar, ia berhasil melewati bek Glodok dan melepaskan tembakan. Sayang, tembakannya lemah. Sehingga dengan mudah ditangkap kiper Glodok Dudung.

Glodok sebenarnya bisa mendulang gol, jika saja Ubed lebih tenang. Berawal dari tendangan sudut, bola melencur deras dan tepat di depan Ubed yang berada di samping kanan tiang gawang Permata Gading. Tapi, Ubed tak siap. Ia mencocor bola liar itu. Sayang, bola melenceng ke keluar lapangan dan hanya menghasilkan tendangan gawang. Di babak pertama gawang kedua tim tak kebobolan.

Babak kedua, giliran Glodok yang melakukan tendangan kickoff. Dari tengah lapangan bola dikirim kepada Roham di rusuk kiri. Striker mungil itu, seorang diri melakukan penetrasi ke kotak penalti Permata Gading. Setelah melewati dua pemain belakang lawannya, Rohman melepaskan tembakan keras dan merobek gawang Permata Gading.
Unggul 1-0, Glodok makin garang menekan. Menit 43, nyaris menambah keunggulan. Rohman yang menguasai bola di dalam kotak penalti, langsung melepaskan tembakan.

Namun, bola dapat diblok oleh kiper. Tiga menit kemudian, gol kedua tercipta. Herdi mampu mengontrol bola hasil tendangan sudut dengan baik. Tanpa terkawal, ia menceploskan ke gawang Permata Gading.

Tertinggal 2-0, Permata Gading menambah daya gedor dengan melakukan pergantian pemain. Faujan ditarik keluar di ganti Falos. Baru dua menit memasuki lapangan Falos mendapatkan peluang emas. Dengan aksi individunya, ia mampu melewati barisan pertahanan Glodok. Lantaran kurang tenang, tendangannya lemah dan dapat di tangkap kiper Dudung.

Keasyikan menyerang, justru gawang Permata Gading jebol untuk kali ketiga. Rohman kembali beraksi di sektor kiri. Dengan kaki kirinya, ia melepaskan tembakan jarak jauh yang merobek gawang Permata Gading. Skor 3-0, berakhir hingga babak kedua usai. (rud)


Sumber: Radar Banten, 1 April 2008

baca selanjutnya..

KSB Kembangkan Cluster Dallas


SERANG – Untuk menepis anggapan banyak orang yang mengatakan bahwa komplek permukiman Kota Serang Baru (KSB) jauh dari pintu masuk, PT Pudjipapan Kreasindo selaku pengembang KSB berencana untuk membuka cluster Dallas yang letaknya hanya sekitar 100 meter dari pintu gerbang KSB.

“Kalau tidak ada halangan akhir Agustus mulai kita pasarkan. Kita mengembangkan cluster ini dengan menggandeng investor asing dari Singapura yang tertarik dengan KSB,” tutur Toto Sasetyo GBL, Direktur PT Pudjipapan Kreasindo didampingi manajer pemasaran KSB Catur Iskarno.

Untuk model bangunan dipilih yang sekarang sedang ngetren, yakni tipe minimalis moderen. Lantaran bidikannya adalah menengah ke atas, pengembang hanya akan membangun rumah sekitar 60-70 unit saja. “Untuk tipe yang dikembangkan dimulai dari 45 hingga 75. Sementara untuk harga jual sekitar Rp 130 jutaan,” ujarnya.
Bagi para peminat cluster ini, lanjut Toto, konsumen bisa mendaftar atau pesan kavling terlebih dahulu. Melihat lokasinya yang sangat strategis, pihak pengembang berkeyakinan Cluster Dallas diminati masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Catur Iskarno menambahkan untuk menepis bahwa komplek pemukiman KSB jauh dari pintu masuk, pihak pengembang juga menawarkan hadiah sepeda motor tanpa diundi kepada para pembeli rumah di kawasan tersebut.
“Begitu akad kredit atau pembayaran lunas, motor langsung diberikan tanpa diundi lagi. Ini kami lakukan untuk membantu transportasi penghuni KSB. Jadi sekarang tempat tinggal mereka tidak jauh lagi dari pintu gerbang,” ujarnya.

Diungkapkan Catur, bagi masyarakat Cilegon dan sekitarnya yang ingin mengetahui lebih banyak tentang KSB, bisa mengunjungi pameran rumah dan interior Banten di Cilegon Supermal. “Kita membuka stand di pameran tersebut,” pungkasnya. (sdo)

Sumber: Radar Banten, 02 Agustus 2006


Cluster Dallas Banyak Diminati

SERANG – Pengembang perumahan Highland Park (Kota Serang Baru) PT Pudjipapan Kreasindo makin semangat dan optimis menggarap Cluster Dallas, cluster termewah di pusat kota Serang.

Sebelum diluncurkanpun, cluster tersebut sudah banyak yang memesan. “Kami sangat semangat dan optimis mempersembahkan Cluster Dallas. Akhir November ini, kami sudah mulai memasuki pembangunan infrastruktur untuk cluster Dallas,” kata Catur Iskarno, Asisten Marketing Manager Highland Park kepada Radar Banten, Kamis (9/11).
Catur tidak menyebutkan secara riil angka penjualan Cluster Dallas hingga saat ini. Namun dari seluruh unit yang direncanakan sudah terjual di atas 30 persen. “Ini sebelum launching, apalagi kalau nanti sudah dilakukan launching,” kata Catur.
Kehadiran Cluster Dallas memang agak berbeda dengan perumahan yang ditawarkan Highland Park sebelumnya, seperti Kelapa Gading. Cluster Dallas terletak di pintu gerbang perumahan, sehingga sangat strategis untuk akses ke luar rumah bagi para penghuninya.

Selain itu, Cluster Dallas dibangun dengan fasilitas mewah, eksklusif dan bangunan yang berkualitas berdesain minimalis. Fasilitas eksklusif yang bakal disediakan antara lain kolam renang khusus bagi penghuni, tidak terbuka untuk umum. Pintu keluar-masuk menggunakan sistem one gate alias satu pintu, sehingga keamanan dan kenyamanan penghuni terjaga.

Di Cluster Dallas juga akan hadir supermarket, sehingga cluster ini selain mewah buat rumah huni juga sangat bernilai tinggi untuk dijadikan investasi masa depan.
Cluster Dallas merupakan terobosan baru bagi Highland Park dengan membangun dari lokasi terdepan. Konsep ini yang sedang tren dalam bisnis properti. (aan)

Sumber: Radar Banten, 9 November 2006


Pembeli Rumah Cluster Dallas Dapat Kunci

SERANG - PT Pudjipapan Kreasindo, pengembang perumahan Highland Park menyerahkan kunci rumah secara simbolis kepada pembeli rumah di Cluster Dallas, Rabu (15/8).

Hal ini sebagai bukti bahwa rumah yang mereka beli sudah selesai dibangun dan siap huni.

“Diberikannya kunci rumah kepada penghuni pertama yang memesan rumah merupakan wujud komitmen terhadap janji kami. Secara keseluruhan, baru beberapa unit yang sudah siap dihuni,” ujar Catur Iskarno, Asisten Marketing Manajer Highland Park, Rabu (15/8).

Cluster Dallas mulai dipasarkan dan dibangun pada akhir 2006 lalu. Sesuai rencana yang dijanjikan, perumahan yang sebelumnya bernama Kota Serang Baru ini menyerahkan kunci rumah kepada penghuninya pada 15 Agustus 2007.
Asisten Sales Manager Highland Park N Dhaenk menambahkan, penyerahan kunci rumah ini untuk menjaga kepercayaan kepada konsumen. “Penyerahan langsung dilakukan Project Manager Highland Park Lukman Nasution di kantor pemasaran,” terangnya.

Di Cluster Dallas dibangun tipe 45/100 dan 75/100. Tahap pertama dibangun 30 unit yang didominasi tipe 45/100. “Pembangunan tahap selanjutnya diperkirakan akan dibangun 30 unit lagi,” sebut Dhaenk.
Katanya, Cluster Dallas kembali dipasarkan dengan penawaran spesial. Sebelumnya, rumah-rumah di cluster tersebut dibangun menggunakan rangka atap baja ringan serta berhadiah AC dan kulkas. “Dalam waktu dekat ini, kami menyediakan kulkas portable untuk setiap transaksi. Sedangkan di kawasan Kelapa Gading disediakan kipas angin. Promo ini berlaku di area pameran pada 18 Agustus sampai 2 September 2007 di Mal Serang,” ungkap Dhaenk. (lai)

Sumber: Radar Banten, 16 Agustus 2007


Bukopin Tangani KPR Highland Park

CILEGON- Bank Bukopin Cabang Cilegon dan PT Pudjipapan Kreasindo, pengembang perumahan Highland Park di Kota Serang, melakukan kerjasama kredit kepemilikan rumah (KPR).

Naskah kerjasama ditandatangani oleh Direktur PT Pudjipapan Kreasindo Toto Sasetyo Dwi Budi Listyanto dan Pemimpin Bank Bukopin Cabang Cilegon Afrizal Naim di Restoran Sari Kuring Indah, Kota Cilegon, Rabu (18/6).
Pemimpin Bank Bukopin Cilegon Afrizal Naim mengungkapkan, dengan kerjasama tersebut keduabelah pihak bisa bersama-sama mengembangkan bisnisnya. “Bank Bukopin siap mem-back up finansialnya. Highland Park dapat menjual unit rumah sebanyak-banyaknya,” ujar Afrizal kepada wartawan usai penandatanganan naskah kerjasama.

Mengenai jumlah dana KPR yang siap dialokasikan, Afrizal menegaskan, berapapun yang dibutuhkan Highland Park, pihaknya siap menyalurkan. “Proses kredit lebih cepat. Kami pun bisa memberikan fixed rate (suku bunga tetap-red) hingga dua tahun,” ungkap Afrizal.

Direktur PT Pudjipapan Kreasindo Toto Sasetyo Dwi Budi Listyanto menambahkan, kerjasama ini akan mendorong laju penjualan rumah di Highland Park yang akhir-akhir ini terus meningkat. “Kenaikan BBM tidak berpengaruh, penjualan kami malah meningkat,” tandas Toto.

Highland Park (dulu namanya Kota Serang Baru), lanjut dia, berhasil memasarkan sekitar 60 unit rumah di Cluster Dallas dalam tempo yang cukup singkat. Bahkan Cluster Houston di atas lahan seluas 4,5 hektar yang belum lama ini diluncurkan, mendapat respon yang cukup baik. Sekitar 30 unit rumah telah terjual. “Selain kolam renang, di cluster ini akan dibangun ruko,” imbuh Toto.

Pada kesempatan itu, Toto mengungkapkan, ada beberapa alasan konsumen memilih Highland Park. Antara lain, 33 persen karena uang mukanya ringan, 55 persen lokasinya strategis, dan 8 persen untuk investasi. “Konsumen kami 60 persen karyawan, 24 persen PNS, dan sisanya umum,” sebut Toto. (bie)

Sumber: Radar Banten, 19 Juli 2007

baca selanjutnya..

Banyak Kelas Rusak


SERANG – Walau telah menjadi kota, sejumlah sarana belajar siswa di Kota Serang masih perlu mendapat perhatian. Lebih dari separuh ruang belajar atau kelas untuk tingkat sekolah dasar (SD) di Kota Serang dalam kondisi memprihatinkan.

“Saya sedih karena masih banyak kondisi ruang belajar di Kota Serang yang ditemukan dalam kondisi rusak,” terang Penjabat Walikota Serang Asmudji HW, saat peresmian perbaikan SDN Mesjid Priyayi di Kecamatan Kasemen oleh Yayasan Budha Tzu Chi, Sabtu (2/8).

Dikatakan, dari 1.577 kelas yang terdapat di 226 SD di Kota Serang, hanya ada 711 kelas saja yang kondisinya baik. Sementara sisanya, atau sebanyak 866 ruang belajar kondisinya masih jelek. “Lebih dari 50 persen kondisinya tidak baik,” tambahnya.
Asmudji menambahkan, perlu peran serta semua pihak untuk membangun gedung pendidikan agar menjadi lebih baik. Menurutnya, keterlibatan swasta dalam membangun sarana belajar perlu disambut baik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam pendidikan.

Diketahui, SDN Mesjid Priyayi merupakan salah satu sekolah yang hancur akibat bencana alam putting beliung pada akhir Nopember 2007 lalu. Bupati Serang Taufik Nuriman yang turut hadir dalam acara ini menyebutkan, selain sekolah yang berada di Desa Wali, Kecamatan Kasemen ini, ada tiga sekolah lainnya yang hancur akibat bencana alam, di antaranya di Kecamatan Baros dan Walantaka. Taufik Nuriman sepakat agar semua pihak bersama-sama bisa memberikan perhatian kepada lembaga pendidikan. “Masyarakat akan maju jika adanya pendidikan. Dan lembaga pendidikan ini akan maju bila ada fasilitas anggaran atau biaya, dan peran masyarakat untuk membantu,” ujarnya.

Hermanto, perwakilan dari Yayasan Budha Tzu Chi mengatakan, yayasannya memiliki misi kemanusiaan tanpa membedakan suku, agama, ras, dan warna kulit. “Sebagai manusia sudah seharusnya peduli terhadap sesama. Kita tak hanya bergerak dalam pendidikan saja, bidang lain yang menyangkut sosial kemasyarakatan terus dibantu,” ujarnya. (fau)

Sumber: www.radarbanten.com, 4 Agustus 2008

Berita lain:

Nunggak Listrik, 300 Pelanggan Diputus

SERANG-PLN Unit Pelayanan dan Jaringan Serang Kota bersikap tegas terhadap pelanggan yang menunggak listrik hingga tiga bulan.

Rabu (6/8) kemarin, misalnya, sekitar 300 pelanggan diputus jaringannya.
“Kita putus total atau bongkar rampung. Jadi sudah tidak ada toleransi lagi, termasuk yang nunggak hingga dua bulan akan diputus sementara. Sebelumnya kami beri surat pemberitahuan,” tandas Manager PLN UPJ Serang Kota Rustanto usai melepas tim pemutus jaringan, kemarin.

Katanya, yang diputus hari Rabu ini hanya sebagian kecil. Berdasarkan catatan, saat ini jumlah penunggak sebanyak 4.000 pelanggan dari 125.000 pelanggan di UPJ Serang Kota yang antara lain meliputi wilayah Kecamatan Serang, Cipocok Jaya, Baros, Kasemen, Ciomas, dan Kramatwatu.

“Mayoritas pelanggan kelompok rumah tangga. Besar tunggakan bervariatif, mulai ratusan ribu hingga jutaan. Pemutusan ini akan terus berlanjut,” ungkap Rustanto. Ia mengakui, banyaknya jumlah penunggak karena penertiban belum maksimal. (bie)

Sumber: www.radarbanten.com, 6 Agustus 2008


Debit Air di Banten Menurun

24.142 Ha Sawah Kering, 3.922 Ha Puso

SERANG - Dalam beberapa bulan terakhir debit air sungai di Banten mengalami penurunan hingga mencapai 60 persen. Debit air sungai hanya tinggal 40 persen dari kondisi normal.

“Penurunan debit air sungai otomatis berpengaruh pada irigasi untuk areal pertanian,” terang Winarjono, Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi Banten, Kamis (31/7).
Banyak faktor yang menyebabkan volume air turun drastis. Dikatakan, selain pengaruh iklim yang kini sedang kemarau, penurunan juga diakibatkan kondisi konservasi di daerah hulu. “Upaya yang harus dilakukan adalah memperbaiki kondisi di hulu. Tapi ini masalah bersama,” ujarnya seraya menyebutkan daerah paling parah tingkat penurunannya di kawasan Pantai Utara.

Winarjono mengatakan, upaya penanganan penurunan debit air dengan mengoptimalkan air bawah tanah. Kendati demikian, ia menegaskan, untuk ABT ini pihaknya belum bisa berbuat banyak karena membutuhkan banyak biaya. Sementara untuk penyediaan air baku untuk konsumsi masyarakat, kata Winarjono, sudah meminta bantuan pemerintah pusat. “Kita sudah mengajukan permohonan tanki air,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Pertanian Banten, jumlah kekeringan sawah di Banten telah mencapai 24.142 hektar. Agus M Tauchid, Kasubdin Pertanian dan Tanaman Holtikultura Distan Banten, menyebutkan, daerah kekeringan tertinggi terjadi di Kabupaten Pandeglang mencapai 17.722 Ha. Di Kabupaten Serang kekeringan melanda sawah sebanyak 436 Ha, Kabupaten Lebak 5.256 Ha, Kabupaten Tangerang 370 Ha, dan Kota Serang 358 Ha.

Akibat kekeringan itu, total area pertanian yang puso sekitar 3.922 Ha yakni di Kabupaten Pandeglang 2.271 Ha, Kabupaten Lebak 1.550 Ha, dan Kota Serang 101 Ha. “Daerah yang dilanda kekeringan dan puso berada pada sawah tadah hujan,” ungkapnya.
Kata Agus, upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekeringan di antaranya mobilisasi pompa air, diversifikasi pola tanam pada daerah tadah hujan yang rentan kekeringan, dan bantuan benih. Pemerintah juga merencanakan pemetaan daerah rawan kekeringan untuk diambil langkah terpadu dengan instansi terkait di pemprov dan kabupaten/kota.
Agus berharap, upaya yang tengah dan sedang dilakukan dapat menimalisasi akibat kekeringan dan puso di Banten. “Mudah-mudahan berhasil,” ujar Agus lagi..(fau/mg-inna).

Sumber: www.radarbanten.com, 4 Agustus 2008

baca selanjutnya..

Senin, 21 Juli 2008

Ini harimu, dan esok [semoga] juga harimu

Menjelang hari anak nasional 23 Juli 2008






Pagi ini beberapa aktivitas berjalan biasa di rumah kami. TV sudah nyala, seusai subuh. Anak pertama kami melihatnya, di tengah kesibukan bermain mainan kesukannya, keretaapi. Saat adik perempuannya bangun, ia pindah ke ruang depan beserta mainannya. TV tetap menyala, gantian saya yang melihat berita. Pindahnya dia, seolah mengingatkan pada adiknya, ia tak mau diganggu atau tidak mau bermain bersama. Yang luar biasa di pagi ini dan seminggu terakhir, anak pertama kami harus mandi lebih pagi dan mengenakan pakaian seragam. Hari ini merupakan minggu ke-dua ia masuk sekolah. Walau sudah seminggu, tapi persiapan menuju sekolah adalah luar biasa dalam aktivitas keluarga kami.

Hari-hari yang belum terbiasa buat kami ini yang paling sibuk adalah ibunya. Kesibukan ibunya ini tentu juga membuat seisi rumah lain ikut sibuk. Siti dan Dewi, petugas rumah tangga kami harus datang agak pagi, 15-30 menit. Saya pun harus merelakan mengurangi aktivitas “membaca” dunia luar.

Haru rasanya melihatnya sudah menginjak usia sekolah. Biru putih mendominasi warna seragamnya. Ia nampak terlihat lebih besar, sehat, dan bersih.

Saat anak pertama kami (Siraj) sudah siap akan berangkat, anaku ketiga kami (Zonnig) masih dalam gendonganku. Sedangkan anak kedua kami (Matari), sibuk dengan kegemarannya, mengusili kedua petugas rumah tangga kami. Anak perempuan kami ini memang sedang dalam tahap meniru dan mengikuti aktivitas orang. Ia yang belum mandi saat waktu menunjukkan pukul 07.10 itu tak jarang merebut mainan atau kegiatan orang lain.

Berpamitan sebelum pergi adalah ritual biasa yang kami lakukan. Tatkala berpamitan akan mengantar sekolah, Matari nampak ragu: mau melanjutkan kegiatannya atau mengikuti mengantar. Biasanya ia ikut mengantar, namun karena ada mainan baru (milik kakaknya), ia dihadapkan pada dua pilihan. Bagiku wajar, anak yang kasih sayangnya sedikit terenggut oleh adiknya ini (ia lahir belum genap dua tahun), sering minta perhatian. Tak terkecuali pagi ini, ia dalam kegalauannya minta dua pilihan itu dapat dilakoni berbarengan. Berbagai rayuan kami lantunkan, ia tetap tidak bergeming dan merengek. Sejenak kami diam, ia ikut diam. Ia mutuskan akan mengikuti ke sekolah kakaknya, dengan membawa mainan. Namun, saat akan dinaikkan ke motor, kebimbangannya muncul lagi. Karena belum bisa berargumentasi, ia hanya bisa nangis. Dan, ini sering ia lakukan dalam situasi-situasi tertentu.

Kesabaran dalam mendidik, memomong, dan memfasilitasi ketiga anak kami nampaknya harus kami berikan porsi yang lebih ke depan. Ketiga anakku inilah tempat kami menyandarkan mimpi-mimpi kami yang belum terwujud, dan terlewat.

Dalam situasi seperti itu, saya memutuskan mengantar anak pertama kami sampai ke kelas. Di depan sekolahnya, saya hampir meneteskan air mata, saat anaku masuk menikmati sekolahnya. Saya tak tahu apa yang dia cita-citakan, tapi nampaknya ia sedang menikmati usaha memasang cita-cita. Selamat meraih cita-cita, selamat mencipta mimpi-mimpimu, nak. Kami akan berusaha, dan terus berusaha menjadi teman meraih asamu, semampu kami.

baca selanjutnya..

Selasa, 01 Juli 2008

Memilih muslim moderat saja


Bulan Juni yang baru saja lewat menyisakan pertanyaan buat kami, sebagai warga biasa: mau milih Islam Fundamental (FPI, dkk) atau Islam sekuler(AKKBB[?])? Pemojokan itu berawal dari peritiwa Insiden Monas, 1 Juni 2008 di Jakarta. Peristiwa yang sebetulnya biasa, buat Indonesia kini, semakin ramai karena telah memunculkan korban yang tidak sedikit (sebagian orang terkenal, tokoh). Yang berakibat ditangkapnya tokoh-tokoh yang lain. Kini, awal Juli, buntut Insiden Monas masih jadi bahan pembicaraan (debat, yang tak jarang debat kusir baik di tingkat atas atau masyarakat bawah). Ujung pembicaraan selalu ada pemetaan, ada di kubu mana?

Kalau kami, jika dihadapkan posisi seperti ini, yang terpaksa harus memilih/membela, rasa-rasanya lebih memilih moderat saja. Namun, kalau dipotong peristiwa Insiden Monas an sich, kami akan berpihak pada AKKBB. Karena dapat diperumpamakan seperti ini, dalam pertandingan sepakbola (karena kami memang gemar permainan yang sangat sportif dan fairplay di lapangan hijau ini) jika ada dua pihak yang menimbulkan keributan, maka pihak yang memprovokasi (AKKBB) akan mendapat kartu kuning, dan pihak yang terprovokasi dan melakukan tindak di luar aturan, dikartu merah. Provok-memprovok diambil dari pendapat kapten LUI (Laskar Umat Islam), Munarman. Tetapi cerita tidak sampai di situ saja, ibarat tanggal masih ada tanggal 2-30 Juni, yang terus dijadikan ajang pembelaan atas peristiwa tanggal 1 itu oleh para pihak yang terlibat. Dan, sejak itulah fakta mulai kabur dan dikaburkan, tak jarang muncul fitnah-fitnah.

Sebagai warga biasa, hembusan berita-berita pembenaran itu lama-kelamaan menjadi membosankan. Sampailah kami pada kesimpulan, politik telah mengambil peran dalam kejadian itu. Untuk itulah kami memilih muslim moderat saja, tidak ikut-ikutan berpolitik yang sedang bertarung di situ.

Dalam beragama kami milih bersahabat dengan siapa saja, tidak ada di salah satu polar ekstrim. Pilihan ini memang tidak beresiko dan tidak berbahaya bagi kehidupan kenegaraan (keluarga) kami. Kesan bahwa pilihan kami tidak membawa pembaharuan memang benar adanya. Tapi, bagi kami, tidak ada yang baru bukan suatu masalah besar dalam beragama kami, yang penting dan utama adalah nuansa pembebasan dari segala cengkraman, termasuk dari kepeningan politikus.

Dalam memandang agama lain kami mengambil metodenya (Almarhum) Koentowidjojo, sejarawan asal Yogyakarta, yakni berpikir obyektif tentang agama/keyakinan/aliran tidak memerlukan pertimbangan teologis benar-salah agama lain. Agama/keyakinan/aliran lain tidak memerlukan pembenaran teologis agama kami, untuk menjamin eksistensinya di tengah-tengah mayoritas agama kami. Kami tidak perlu repot-repot tahu tentang kedudukan teologis agama lain itu. Budayawan Cak Nun mengumpamakan, agama/kepercayaan lain adalah ibarat istri tetangga. Baik-buruknya, seksi-tidaknya, cantik-jeleknya, jangan diukur dengan ukuran istri kita. Biarkan ia ada dengan adanya saat itu.

Akhirnya kami kembali pada keseharian kami: menikmati Piala Euro 2008, mencoba bernafas dalam himpitan harga-harga kebutuhan yang semakin mahal, berpuasa dengan keingingan-keinginan kebutuhan sekunder, dan kadang tertawa dengan sesama warga. Namun, kami tetap saja menyimak apa yang terjadi dengan Indonesia, baik skala nasional maupun skala Ke-RT-an.

Saat para penggemar Spanyol bersuka ria; penggemar Jerman dan kontestan piala Eropa sedih dengan kegagalannya, awal Juli ini kita kembali membuktikan keberanian para pemimpin negeri ini dalam penderitaan rakyat yang tak kunjung henti. Para pemimpin yang dipilih mayoritas pemilih ini dengan berani menaikkan harga gas elpiji dan BBM (industri), di tengah perlawanan masyarakat menolak BBM.

Haruskah doa kami lantunkan dengan jeritan, agar doa kami semakin terkabulkan: kami terlepas dari penderitaan.Rasanya tidak, karena di hadapan para Penguasa sebenarnya (Sang Khalik) itulah kami percaya. Rintihan doa dalam kemoderatan kemusliman tetap kami lantunkan dalam teriakan perlawanan terhadap para pemimpin yang semakin menindas.

baca selanjutnya..

Bersama

Pengunjung ke

Gang Raflesia

Jl. Raflesia, Kawasan Kelapagading Blok S-T, Kota Serang Baru,
Banten, Indonesia 42122